Ramadhan Serene and Comfort
Salam, Ramadhan.
Alhamdulillah Allah masih sampaikan saya dan keluarga untuk bertemu Ramadhan di tahun ini. Sebuah karunia yang besar. Satu Ramadhan bisa mengubah nasib kita seumur hidup di dunia maupun di akhirat, begitu yang saya pelajari.
Hari ini kami sudah memasuki malam ke-24 Ramadhan, sejengkal lagi menuju akhir Ramadhan, dan bertepatan dengan 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, walaupun saya tidak sempat menulis banyak hal dalam satu tahun ini, tapi saya ingin kembali untuk merefleksikan Ramadhan. Refleksi ini sangat bermanfaat untuk saya, karena saya bisa melihat bagaimana setiap Ramadhan menyimpan pembelajaran baru dalam hidup saya. Dari pembelajaran itu, lahirlah seorang individu yang baru.
Penempatan tanggal penulisan refleksi ini sangat mirip dengan yang terjadi 2 tahun lalu. Dua tahun lalu, saya sedang sangat sibuk mempersiapkan banyak hal, terutama pernikahan (karena pernikahan saya berlangsung di bulan Syawal, maka Ramadhan adalah waktu-waktu hectic mempersiapkannya). Dua tahun lalu, saya baru sempat menulis refleksi juga di 10 malam terakhir bulan Ramadhan di tengah hiruk pikuk juggling dengan berbagai hal.
Namun, berbeda dengan dua tahun lalu, tahun ini saya merasa Ramadhan datang dengan begitu kalem. Dari pembelajaran sebelumnya, kami mempersiapkan Ramadhan dari beberapa bulan sebelumnya. Rabiul awwal kami menanamkan hati dan kerinduan akan Ramadhan. Pada bulan Jumadil Awwal, saya mulai mengikuti beberapa kajian menuju Ramadhan. Alhamdulillah dengan teknologi saat ini, banyak sekali Ustadz yang menghadirkan kajian jelang Ramadhan. Salah satu yang saya ikuti adalah Series Asmaul Husna dari Ustadz Nur Fajri Romadhon (Yayasan BISA). Alhamdulillah materi tersebut juga bertepatan dengan materi mentoring yang saya bawa di kampus.
Ramadhan 1447 H memberikan topik "serene" and "comfort" bagi jiwa saya. Sebuah usaha memohon ampunan dan taubat, serta penyucian jiwa.
Ketenangan dengan Mengingat Allah
Dimulai dari series jelang Ramadhan yang membahas terkait Asmaul Husna. Kemudian series Ramadhan yang dibawa oleh Yaqeen Institute juga tentang Asmaul Husna. Beberapa orang bahkan mengatakan ini Series Ramadhan terbaik dari Yaqeen Institute. Debatable, karena saya merasa Series tahun lalu tentang Alam Barzakh lebih ngena. Tapi beberapa pengingat tentang nama-nama Allah ini membawa ketenangan di hati saya selama bulan Ramadan, memang benar isi kalamullah
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ ٢٨
"those who believe and whose hearts find comfort in the remembrance of Allah. Surely in the remembrance of Allah do hearts find comfort." (Ar-Ra'du: 28).
Mungkin satu atau dua hal ketenangan Ramadhan ini datang dari mengingat nama-nama Allah.
Mungkin mengetahui bahwa Allah, yang punya segala kemampuan, adalah yang mengatur hidup saya membawa ketenangan bagi saya.
Mungkin juga dengan mengetahui saya memiliki tempat bersandar, yang bisa saya panggil nama-Nya, mengurangi rasa khawatir dalam kehidupan.
Mungkin juga karena mengetahui bahwa rezeki, hidup, dan mati saya sudah dijamin oleh Allah, pikiran saya tidak penuh dengan hal-hal tersebut.
Selain itu, beberapa bulan sebelumnya saya dan beberapa teman memang sempat membahas terkait Tazkiyatun Nafs. Mungkin sedikit banyak kami juga belajar dari sana.
Ketenangan dengan Beribadah yang Mindful
Di Ramadhan ini, Alhamdulillah workload di kampus tidak berat. Saya hanya mendapat dua hari jadwal mengajar, sisanya bisa "bebas kerja di mana saja". Tapi dua hari seminggu itu, isinya full. Tapi lagi lagi, Alhamdulillah kedua mata kuliah yang saya ajar juga tidak memerlukan beban persiapan yang berat, sehingga saya bisa lebih fokus pada peningkatan kadar keimanan di Ramadhan.
Di bulan ini, saya belajar untuk mindful. Sebagai seorang istri (dan in syaa Allah ibu), banyak sekali hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Sampai-sampai muncullah pertanyaan ini di grup.
Semakin ke sini semakin sadar bahwa menjadi seorang istri dan ibu, aselinya setiap pekerjaan adalah ibadah. Sejak menikah, saya belajar bahwa setiap pekerjaan yang saya lakukan baik untuk keluarga maupun masyarakat, juga adalah bentuk ibadah. Saya memilih beberapa ibadah yang ingin dilakukan secara mindful dan berusaha tetap kontinu. Semisal: saya jarang beri'tikaf, tapi di rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan menyiapkan kebutuhan suami. Sebagai dosen, terkadang banyak waktu mendengar kajian harus dipakai menyiapkan materi perkuliahan, maka saya ikhlash dan ridha', cukup mengerjakan yang bisa saya kerjakan karena profesi saya pun dijalani untuk beribadah selama ibadah batinnya tetap berjalan. Jadi saya juga all out dalam mengajar selama bulan Ramadhan ini, diselingi ibadah-ibadah dzohir.
Dulu saat saya merasa tidak maksimal dalam menjalan "semua" ibadah, saya merasa kecil. Sekarang saya merasa ibadah yang dilakukan dengan mindful dan penuh ketenangan lah yang sebenarnya lebih berarti. Walaupun dalam praktiknya, masih banyak kekurangan, seperti terkadang membaca Al Quran harus terburu2 di sela jam mengajar, sehingga tidak sempat membaca tafsir, dan kasus-kasus lainnya, saya tetap berusaha. Dan saya tidak merasa kecil akan kekurangan ini, saya merasa senang bahwa akan ada room of improvement kedepannya. Ini juga yang membawa ketenangan dalam Ramadhan saya di tahun ini.
Dari ’Aisyah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ
”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.”
Saya belajar bahwa, nilai dari sebuah ibadah bukan tetang kuantitasnya, tapi tentang kualitasnya. Kualitas di antaranya kualitas niat, kualitas kehadiran diri pada ibadah tersebut, dan kualitas konsistensi (istiqomah). Walaupun kecil, tapi jika dilakukan terus menerus dengan mindful, maka dampaknya jauh lebih besar. Bismillah semoga ini bisa dibawa sampai kemudian hari.
Menjauh dari Yang Mengganggu Hati
Saya merasa PR terberat di Ramadhan ini adalah menata hati, untuk menjaga ketenangan jiwa. Tidak bisa hati menjadi bersih jika masih banyak kotoran di dalamnya. YaAllah jauhkan kami dari syirik, riya', ujub, hasad, dan takabbur :(((
Pada Ramadhan tahun ini, saya belajar bahwa hati saya masih sangat kotor, saya masih banyak dosa, dan banyak yang harus dibersihkan.
Rasulullah SAW juga bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menciptakan makhluk yang akan berbuat dosa, kemudian meminta ampun, agar Dia dapat mengampuni kalian." (HR. Muslim).
Dan memang benar, kita tidak boleh merasa suci dari dosa. Banyak tanda-tanda di Bulan Ramadhan ini yang mengarahkan saya pada refleksi pensucian dosa ini. Di antaranya
- Postingan teman-teman di instastory yang selalu jadi pengingat bahwa kita memang adalah pendosa. Maka tidak layak kita merasa lebih baik daripada yang satu dan yang lainnya. Apalagi merasa diri layak dan suci dari dosa.
- Tiba-tiba lewat di FYP Instagram, sebuah cerita fiksi, di mana di hari akhir nanti, bisa saja Allah memanggil kita, menaruh hijab di antara kita dan orang yang lain, kemudian Allah memperlihatkan dosa-dosa kita. Di momen tersebut, kita merasa tak berdaya (tentu :( ), hopeless dan penyesalan terberat. Tapi di momen itu juga, Allah bisa saja berkata "Aku ampuni semuanya". Aseliii nangis banget :"" Ya Allah Yang Maha luas ampunannya, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku". Mupengg
- Gatau ya, setiap baca Qur'an, pas baca terjemahnya banyak yang pas banget dan ngena dengan hati yang kotor ini.
Terimakasih kak sangat menginspirasi sekali. Semoga kakak dan keluarga berada dalam naungan perlindungan Allah
ReplyDelete