Ma'iyyatullah, "Yang aku tahu, Allah bersamaku"
Ketika ujian, mendapatkan nilai rendah, lalu bersedih, jangan-jangan belum ada Allah dalam kehidupanmu?
Ketika rapat, malas-malasan, saat rapat malah tambah gajelas, jangan-jangan kamu memang belum membarengi Allah dalam niatmu?
"Iman adalah mata yang terbuka, mendahului datangnya cahaya tapi jika terlalu silau, pejamkan saja lalu rasakan hangatnya keajaiban" - Salim A. Fillah
Pada hari Jumat lalu, saya belajar tentang sebuah kalimat baru pada sesi mentoring, yaitu "Ma'iyyatullah" dalam tulisan arab "معيّة الله"
Dalam benak saya pertama kali, ini pasti ada hubungannya dengan "مع" dalam bahasa arab yang artinya "dengan". Namun saya belum bisa mendapatkan sepenuhnya makna harfiah dari kalimat ini. Karena sempat terpikir kenapa bukan "معي الله" dan saya belum bisa mendapatkan hal tersebut heheh, bahasa arab saya masih cetek heheh.
"Ma'iyyatullah", merupakan suatu sifat kebersamaan Allah dalam kehidupan makhluknya.
لا تحزن ان الله معنا -- "Jangan lah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita" (Q.S At-Taubah : 40)
Sifat ini memang sangat sering dikemukakan Allah dalam Al-Qur'an, di mana Allah selalu berfirman yang mengindikasikan bahwa Allah selalu bersama kita, bersama orang mukmin, sabar, bertakwa, Allah selalu melihat perbuatan kita, dan sebagainya. Lalu kita sebagai makhluknya perlu sadar tentang "SEYAKIN APA BAHWA ALLAH BERSAMA KITA?".
Begitu mendengar perihal ini, saya langsung mengingat ayat favorit saya dalam Q.S Yusuf, begini bunyinya.

Saya selalu memegang teguh firman Allah yang satu ini, karena saya sadar betul, tidak ada yang lebih dekat yang bisa mendengar keluh kesah saya setiap saat selain Allah. Manusia itu khilaf, kadang suka, kadang menjauh tapi Allah selalu bersama saya, dan selalu mendengarkan keluh kesah saya. Mungkin ini adalah SALAH SATU cara memaknai kebersamaan Allah dalam kehidupan.
Para nabi dan sahabat terdahulu, menjalani perjuangan dakwah yang berat, terjal. Tapi mereka selalu yakin bahwa Allah bersama mereka. Berapa kisah telah disampaikan, tentang perjuangan berat dakwah di masa lampau, ada Nabi Nuh yang mencapai 950 tahun berdakwah, tidak ada yang mengikuti. Bahkan hingga Nabi Yunus yang putus asa terhadap kaumnya. Namun, semua perjuangan pada akhirnya Allah lah yang memberi hasil, Nabi Yunus yang meninggalkan kaumnya, malah saat ditinggalkan, kaumnya banyak yang masuk islam. Kisah Hajar yang berlari bukit shafa dan marwa mencari air untuk Ismail, ternyata air tersebut muncul di sekitar kaki Ismail.
Mungkin begitu juga jalan saya, dan teman-teman tercinta wkkwk. Begini lah jalan yang kita tempuh, yang kita pilih, yang Allah pilih untuk kita. Jalan kita bukan jalan orang-orang yang hanya berdiam diri di rumah menunggu rezeki (sebenernya saya gini sih, nunggu Gr*bFood), bukan jalan orang yang berfoya-foya, yang jahil, berbuat sekehendaknya, bukan jalan Fir'aun ataupun orang-orang zalim lainnya.
Jalan dakwah dan perjuangan mencari ilmu akan sangat terjal, tapi seperti perjuangan yang terdahulu, selalu menyertakan Allah dalam setiap usaha.
"Jaman dulu! disuruh apapun langsung dilakukan! Menyembelih anak sekalipun! Kok sekarang ngerjain tugas kuliah aja demot?!"
-- begitu isi notes saya pas mentoring
"Yang aku tahu, Allah bersamaku" begitu kata-kata keren di buku karangan Salim A.Fillah. Kita berusaha sekuat tenaga terhadap kewajiban dan hak kita, tapi tidak pernah lupa bahwa kebersamaan Allah dan pertolongannya, juga bahkan laknatnya selalu ada bersama kita.
IKHTIAR ITU HARUS!! Tapi semua hasil ada di Allah

Comments
Post a Comment