Mentoring? Liqo? atau Tarbiyah?
Sebuah kata terlintas di pelatihan, "Tarbiyah"... kemudian sempat terfikir di benak saya, bukannya "golongan" ini yang biasanya diceritakan orang, bahkan beberapa orang mengaku tidak menyukai golongan ini. "Tarbiyah" ini disebutkan dalam pelatihan, dan ya memang yang saya tahu orang mengenal golongan tarbiyah sebagai golongan mentoring. Yak, orang-orang yang ikut mentoring itu, golongan tarbiyah pasti. Kemudian, apa mungkin saya dicuci otaknya di sana untuk mengikuti "golongan" ini? Bagus atau tidak? Apa sih tarbiyah ini sebenarnya?
Sejujurnya saya masih kurang mengerti dengan "Tarbiyah" ini. Beberapa mengatakan bahwa ini adalah suatu pengajaran dan pendidikan islam, bahkan di zaman Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pun sudah diterapkan dan menjadi sarana dakwah yang terus berlanjut. Beberapa orang tidak menyukai golongan tarbiyah, karena ... gatau sih kenapa... tapi katanya golongan ini menyelip-nyelip di sendi kehidupan kampus(baca dari medium seseorang). Tapi jujur, saya tidak terlalu mengetahui begitu dalam kebenarannya, karena di asrama tidak pernah dibahas, sehingga tidak berani untuk benar2 mengikuti salah satunya. Tapi ya, saya mentoring. Bukan karena saya dicuci otaknya, dipengaruhi atau semacamnya, tapi saya ingin jadi lebih baik.
Dilihat dari segi mentoring, sebenarnya lucu sih, saya tidak mengerti kenapa orang-orang tidak menyukai golongan orang-orang yang suka mentoring. Faktanya terlepas dari namanya tarbiyah atau bukan, saya cukup senang dengan mentoring, setiap minggu saya merasa tetap terjaga karena berada di lingkungan yang sama-sama ingin menjadi lebih baik dengan environment yang sama; di tengah hectic kuliah, organisasi, dan semacamnya. Walaupun saya saat ini sedang berasrama di pesantren, tapi motivasi belajar agama bertambah kuat di mentoring ini. Mungkin karena environment yang sama, kebanyakan orang di asrama saya memang orang yang benar-benar fokus memperbaiki ilmu agama, hal yang bagus, tapi saya malah merasa tidak "into", beberapa hal tentang kami berbeda. Saya merasa bersalah mengatakannya, tapi sepertinya saya masih pada fase memanfaatkan kerjaan dunia dengan harapan nilainya ibadah di sisi Allah.
Saya sendiri, terhitung hingga saat ini sudah 5 tahun mengikuti kegiatan mentoring, sejak kelas 10 SMA. 4 kali berganti mentor, dan bahkan sekarang sudah jadi mentor. Waw.. ternyata saya sudah besar wkwk ga deng. Hanya saja, mengingat perjalanan dulu, mungkin ini adalah fase mentoring yang seharusnya. Yakk... seperti seharusnya.
1. Mentoring pertama kali: kekaguman dengan sang mentor, Teh Dije
Jujur kalau ditanya "Dulu mau mentoring kenapa?" lohh ini saya bener2 lost, saya juga lupa kenapa WKKWK yang saya ingat kelas 10 SMA dulu tiba-tiba aja langsung ada grup mentoring bersama seorang mentor bernama "Khadijah Hasim" mahasiswi IPB tingkat 3. Dulu mentoring ga ngerti apaan, cuma ngerti, dateng, baca quran, curhat, terus kalo ada makan alhamdulillah wkwk. Itu pun di awal saja, lama kelamaan mentoring tidak berjalan semestinya.
Pokoknya mentoring di awal ini, awal2 banget ga ngerti harus ngapain, dateng karena ada makanan. Terus lama kelamaan, mentor saya sering menghilang ini, tidak rutin dilaksanakan. Oke lah sekip, wkwk. Tapi ternyata saya mendapat kabar bahwa memang mentor saya ini orang luar biasa, sibuk di kampus, organisasinya dsb.
Pada suatu mentoring beliau mengatakan akan exchange ke Jepang dan Korea jadi kita bakal dilempar dulu mentoringnya. Waaaahhhhhhh berbinar2 mata saya kayak "UUU SO COOL MY PANUTAN" oke maklum namaya juga murid baru. Lama kami tidak bertemu, namun ternyata sejak itu muncul motivasi ingin mentoring karena ingin bertemu sang mentor, di mana mentor saya adalah orang yang saya kagumi sekali.
Ketika mentor saya kembali, ternyata mentoring masih tidak berjalan normal, masih sering hilang beliau bung. Lalu dapat kabar lagi bahwa beliau sedang mengikuti rangkaian acara mapres hingga mapres nasional. "OMG, INI PANUTAN AKU BGT". Baiklah kami menteenya bersabar, bertemu mentor 3 bulan sekali wkwk padahal pengen banget ketemu karena pengen ngobrol "GIMANA CARA EXCHANGE KAK, GIMANA JADI MAPRES UWUWUWU".
Alih2 ingin bertemu mengobrol, ketika suatu mentoring habis dia mapres, sebuah kabar mengejutkan muncul. Beliau akan menikah, MASIH KULIAH, kita menteenya makin heboh kayak "OMG TEH DIJE" oke sebenernya gak gitu ekspresinya. Tapi sejak itu mulai muncul rasa ingin menjadi seperti beliau dalam hati saya. Bahkan hingga saat ini, beliau benar2 sesempurna kehidupan wanita yang terlihat bagi saya :") mashaAllah, masih panutan tertopq. Seorang wanita yang berprestasi dunia, dan shalihahnya tidak kalah.
Setelah beliau menikah, mentoring menjadi semakin sulit wkwk seakan2 mentor kami diambil oleh seorang laki2 yang mengaku suaminya WKKWK tidak cukup dengan alasan itu, beberapa bulan, alasan baru muncul bahwa beliau sedang hamil. Akhirnya kami yang mendatangi rumah beliau, dan mendapat kesimpulan, sepertinya kelompok mentoringnya akan dilemparkan ke tetangga sebelah.
Cukup sedih sebenarnya, ketika menemukan panutan, ternyata harus dilempar, tapi ya sudahlah.
Kisah mentoring teh dije ini, terjadi ketika masa saya suka banget nulis blog, jadi semua kenangan masih tersimpan baik. Oiya nama mentoring ini adalah "Wonder Girls".
Keliatan kan, mentoring karena makanannya. Tiap foto ada makanan.
2. Mentoring dilempar: dipertemukan dengan teman-teman shalihah, Teh Ismah
Yakk, kemudian, kami dilempar ke mentoring sebelah. Sekitar pertengahan kelas 11 kejadiannya. Karena saya orang yang cukup humble, mentoring sebelah alhamdulillah saya bisa beradaptasi, walaupun banyak sekali yang berbeda kelas. Mungkin satu hal yang agak berbeda adalah, ini kelompok mentoringnya aktif sekali WKWK setiap minggu rutin selalu ada, sangat berbeda jauh dengan kelompok sebelumnya yang mentoring 3 bulan sekali WKKWK Oke lah.
Mentor saya yang kedua ini, namanya "Teh Ismah, Ismah Nur Asobah", sangat lemah lembut dan selalu menyediakan makanan di setiap mentoring, dan mentoringnya setiap minggu. Alhamdulillah saya jadi lumayan rajin dateng heheheh. Teh Ismah ini tau banget deh, cara menyatukan orang pokoknya. Kalau mentoring di rumahnyaa, semua makanan dikeluarkan. Mentee dari Teh Ismah ini terbilang banyak, dan dinamakan "Lingkar" karena setiap mentoring kita buka lingkaran mengkaji ilmu. Menteenya juga beragam banget pokoknya, beda kelas, beda kasta WKKWK beda keilmuan agama, dan lain2, tapi masih bener2 bersatu bahkan sampai kuliah sekarang masih suka kumpul kalo liburan.
Motivasi saya yang awalnya dateng karena makanan, lama kelamaan berubah. Saya juga tidak mengerti, tapi bertemu dengan orang2 yang sama setiap minggu. Bercanda, diskusi tugas, dan semacamnya, saya merasa memiliki teman (okee saya ga terlalu punya temen sebelumnya). Akhirnya saya menemukan sebuah lingkaran yang saya merasa nyaman di dalamnya. Saya pun terbilang rajin ikut mentoring. Bahkan di luar kegiatan mentoring, saya dan teman mentoring biasanya belajar bersama, apalagi menjelang SBM, kami sering belajar bersama di musholla, terus ada aja yang traktir makanan ntar wkwk.
Ahh sayang sekali dengan teman2 yang ini, kita buat grup "Matematika bersama Lulu" kemudian ketika kuliah berubah jadi "Ngoding bersama Lulu", kemudian berubah lagi jadi "Ngoding bersama Kupeh". Selalu mencari kesempatan di liburan untuk bertemuu. Mereka orang2 yang supportif.
Ketika memasuki masa kuliah, sulit untuk mentoring. Ada yang merantau ke malang, jawa sana, depok heheh. Akhirnya mentoring kami sudah tidak aktif. Namun memasuki kuliah, ternyata saya dikenalkan dengan mentoring baru. Yang awalnya itu, adalah termasuk rangkaian acara mahasiswa baru. Sebelumnya sempat ada sebuah form yang menanyakan apakah saya pernah ikut mentoring atau tidak. Oh ya tentu saya pernah, saya centang deh. Ternyata centang tersebut membawa saya berkumpul dengan orang-orang yang juga pernah mentoring sebelumnya.
Hari pertama mentoring yang harusnya bertemu mentor waktu itu, seorang mahasiswi datang memperkenalkan diri,
Akuh: "Ohh Kak Nurul namanya, oke".
Kak Nurul: "Saya bukan mentor kalian ya, mentor kalian ada dosen di fasilkom",
Akuh: "APA!! (membayangkan ibu2 gaya2 guru mate SMA akan mengisi mentoring)"
Akhirnya diceritakan lah bahwa mentor kami seorang dosen pemrograman web di fasilkom dan dia masih muda. Alhamdulillah tidak sesuai bayangan sebelumnya.
Mentoring di masa kuliah ini, berbeda dengan sebelumnya. Mentornya yang sibuk, menteenya yang lebih sok sibuk WKWK akhirnya menentukan waktu saja sulit. Yang saya ingat dulu, ujung2nya mentoring jam 7 pagi hari Sabtu di MUI, APAH JAM 7 PAGI DONG HARI SABTU LAGI. yak seperti dugaan, walaupun Kak Iis sudah datang jam 7 membawa makanan, jam 7 masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas, yak selalu terlambat. Beberapa kali jadwal mentoring di reschedule untuk menemukan waktu yang pas. Sampai mentoring terakhir pun yaaa ternyata masih sulit WKKWK
Terlepas dari kegaitan mentoring yang sulit menentukan waktu, kak Iis tetap giat memantau anak2nya ini. Lewat chat lah, dipanggil ke ruangan dosen lah. Yakk, masih dipantau. Kak Iis ini sangat aktif berdakwah dan berkegiatan sebagai dosen dan aktivis dan segala macemnya. Sebenernya cukup kagum dengan mentor yang satu ini, tapi my top panutan masih Teh Dije heheheh.
Satu hal baru yang saya pelajari di mentoring kuliah ini, mentoring dan berdakwah memang diperlukan. Dengan frekuensi mentoring yang jarang2 tapi sering, gimana yak ngomongnya. Dibandingkan dengan mentoring pertama saya, lebih sering. Tapi dibandingkan dengan mentoring kedua saya, lebih jarang. Pokoknya kak Iis selalu punya cara menyampaikan materi hingga masuk ke lubuk hati terdalam, dan saya kemudian sadar, materi ini lebih berat dari sebelumnya. Yang dibahas adalah mengenai dakwah, dan yang berhubungan dengan itu.
Ada kesadaran yang tumbuh dari mentoring kuliah ini, bahwa kehidupan kuliah kalau tidak dibarengi kesadaran akan agama, akan tidak jelas arahnya. Begitu banyak godaan, banyak yang dapat memicu keluar dari ajaran agama yang benar. Kemudian, motivasi mengikuti mentoring berubah menjadi "karena saya memang membutuhkan bimbingannya". Di tengah kesibukan kehidupan perkuliahan, dulu penyelamat saya yang membuat saya bisa melepas semua ambisi, semua kesedihan, dan semacamnya adalah mentoring. Karena saya mulai sadar, yaa saya kuliah juga karena Allah, Allah ridho nilai saya rendah, ya udah. Sangat bersyukur saya masih dijaga Allah di sini.
Mentoring terasa menyenangkan karena saya merasa membutuhkannya. Di semester 4 lalu, karena waktu itu saya pemimpin kelompok mentoring, saya giatkan mentoring setiap jumat siang, mulai marah2 kalau ada yang terlambat WKWKK parah sih.
Mentoring berjalan normal, sampai datang kabar bahwa kak Iis akan menikah :")) teringat dulu mentoring dilempar ketika mentor menikah, mulai khawatir waktu itu, tapi kata kak Iis nggak kok, gabakal. Akhirnya hingga datang jodoh tersebut, menikah. Tapi ternyata kabar mentoring dilempar bukan karena menikah, tapi karena kak Iis akan melanjutkan pendidikan di German :")) okee agak sedih karena tidak mentoring dengan kak Iis lagi, tapi tidak begitu sedih, karena saya berniat bukan pada siapanya mentoring tapi kepada apa yang saya dapatkannya.
Akhirnya mentoring saya pun dilempar jaauuuhh, ke fakultas seberang, Fakultas Teknik. Awalnya kaget sih, kok jauh kali ini. Tapi sadar, justru ini kesempatan bagus, karena saya bosen tiap saat di Fasilkom mulu, hitung2 hiburan jalan2 dan menambah koneksi ke luar Fakultas. Yakk mulai saat itu, saya berjaalan menyusuri lautan danau UI wkwk untuk mentoring.
FULL TEAM
Grup mentoring ini namanya "Kaffah"
4. Perjuangan mentoring: menempuh apapun demi mentoring, Kak Ria
Mentoring ini sebenarnya belum terlalu lama berjalan, tapi saya merasa sudah cukup akrab dengan orang2nya. Karena saya orang sok akrab kali ya. Yakk tapi mentoring kali ini, benar2 serutin2nya mentoring yang pernah saya rasakan wkwk, ujian pun masih hajar mentoring WKWK.
Di mentoring kali ini, saya merasakan hawa yang lebih produktif wkwk di mana pertama kali mentoring saja saya kaget, dari jam 4 sampe jam 7/8 mantap WKKW biasanya gak pernah selama ini mentoring. Materi yang setiap minggu disampaikan pun bukan hanya materi selewat dengar saja kali ini. Benar2 materi yang mesti dimasukkan ke dalam hati. Bahkan beberapa saat sempat ada meditasi sejenak WKKWK.
Yakk kali ini juga, saya merasa langkah saya diperingan oleh Allah, walaupun menyusuri lautan UI, saya tetap rutin datang, kecuali pas ujian, wahh berat sih itu WKKWK. Tapi benar2 di mentoring kali ini, saya merasakan, saya lebih mementingkan untuk berkumpul di sini daripada ngerjain tugas yang deadlinenya malam itu. Sudah dua kali kejadian, saya datang mentoring dengan lemas, mengingat deadline yang akan ada di malam itu, tapi belum terkejar. Sambil mentoring sambil tidak jelas, wkwk sempat hilang fokus karena merasa saya harusnya mengerjakan tugas. Tapi memang Allah yang arahkan, deadlinenya selalu diundur kalo saya mentoring WKWKKW.
Kak Ria di mentoring ini, jumlah menteenya sangat banyak wkwk dari berbagai jurusan, bahkan sekarang ketambahan dari fakultas lain, total sekitar ->15, walaupun datang shift2an karena sulit menyamakan jadwal 15 orang, tapi semua orang tetap bersemangat. Ada yang malam2 masih datang menyempatkan mentoring. Saya pribadi juga mulai merasakan mentoring sebagai sebuah keharusan yang rutin. Sepertinya teman saya pun merasakan demikian.
Sudah beberapa minggu belakangan datang ke teknik, lalu terjebak badai WKWK tapi yah sudah berdoa saja, malah enak di mustek (tapi gaada wifi dong :(((( ). Satu hal lagi yang saya suka dari mentoring kali ini adalah, jeng jeng jeng, di teknik banyak jajan WKWKK jadi setiap ke teknik saya selalu menyempatkan beli jajan, terutama pempek, karena di fasilkom tidak ada. Selain itu, ternyata ngobrol sama anak teknik juga membuka wawasan baru.
5. Saatnya menjadi mentor: memahami yang selama ini saya kerjakan, Kak Lulu WKWK
Yakk, mentoring baru saya, baru berjalan beberapa minggu, belum ada foto. Tapi saya berharap ke depannya bisa mengukir kenangan seperti mentor2 saya mengukir kenangan2 di atas
Sejatinya, saya mentoring bukan karena ajakan siapapun, ataupun mendapat tawaran apapun. Saya merasa berkeinginan sendiri karena proses yang sudah lama saya jalani bahkan dari saya tidak mengerti apapun. Kalau orang bilang saya tarbiyah secara arti negatif, yaa sudah itu urusan mereka. WKWK saya tidak peduli sama sekali, saya melakukan sesuatu karena memang dorongan itu ada dalam hati saya.















Comments
Post a Comment