Bukan Exchange Biasa : Cek Kesehatan di RSUI
Ini adalah masa titik balik yang awalnya mikir seneng-seneng daftar exchange ke Jepang. Tapi di sini saya mulai membenci prosesnya.
Yak, salah satu yang menjadi persyaratan berkas adalah hasil cek kesehatan. Saya kurang mengerti tapi di template yang disediakan diminta hasil urin, darah, pendengaran, mata, xray, jantung, dan cek kesehatan umum. Banyak juga sih, karena saya lagi di Depok, kepikiran lah coba ke RSUI.
Saya konsultasi ke RSUI tanggal 30 Oktober tentang paket apa yang perlu saya ambil dsb. Lalu saya diberi 2 brosur ini.
Hmmm... saya sejujurnya gak ngerti, tapi kemudian disarankan untuk ambil paket Medical Check Up (MCU) yang bayar 500k. Hadeh oke lah.. lanjutkan...
Saya kembali lagi di Jumat,1 November untuk daftar MCU. Dilayani dengan baik, pergi ke ruang MCU, tiba2 dikeroyok dokter ketika ngasih template hasil MCU yang perlu diisi, kata mereka ini harusnya bukan ke MCU, ini ambil paket Bebas TB + electrocardiogram aja. Hmmmm... sudah mulai ga enak nih. Akhirnya balik lagi ke resepsionis minta ganti paket, okee dikabulkan.
Oiyaa saat itu saya dapet email dari orang KUI, bahwa berkasnya terakhir ditunggu sore ini. Lohh... kan bingung yak, bukannya deadline 10 November tiba-tiba dia bilang bahwa berkasnya terakhir di tunggu sore ini. Ternyata dikatakan 10 November itu di Jepangnya, jadi untuk biar keburu kekirim ke Jepang ya mesti dikirim secepat mungkin. Berkas saya belum ada yang lengkap, Surat rekomendasi, Surat MCU, Paspor, segala-gala lah. Saya hopeless bung. Udah mau balik aja meringkuk di rumah.
Saya keluar dulu dari RSUI, duduk di pinggir jalan, merenung, butuh waktu berfikir sendiri, kepala saya pusing, shock, ini titik balik saya mulai merasa pendaftaran ini bener2 janggal, mengganggu kehidupan saya, saya tidak menyukainya. Terpikir apa mungkin saya harus berhenti di sini, apa jadinya surat rekomendasi saya yang sedang dikerjakan dosen, lalu paspor yang lagi dibikin, apa kata orang tua saya, mereka sudah setuju loh. Tapi seperti yang selalu saya katakan di doa saya, saya ingin berbuat usaha yang maksimal. Lalu, apakah ini usaha maksimal? tentu belum, saya berusaha lagi dengan komunikasikan ke mereka, bahwa berkas saya belum siap, akhirnya mereka memberikan pengunduran deadline jadi Senin. Wahh... ternyata Allah masih pengen saya lanjut.
Saya pergi ke bagian Klinik umum, untuk bertemu dokternya, menunggu beberapa saat, dipanggil. Lalu di dalam ruangan cek biasa, tinggi badan, berat badan, riwayat penyakit, yaa basic lah. Tapi terus pas dokternya lihat template hasil MCU dari univ sana, si dokter ngomong sambil nambahin list klinik yang harus saya kunjungi "Ohh ini kamu harus tes pendengaran di klinik THT, klinik visus, terus electrocardiogram" saya ngangguk2 aja, nurut, ga mikir2 apa.
Setelah dari ruangan di minta untuk electrocardiography, oke, ini kayak yang di film2 di pasang alat di daerah jantung, terus ntar alatnya nyala nunjukin detak jantung.
Yak, di dalem, begitu alatnya dipasang, detak jantungnya terekam, susternya mulai panik, ya.. saya ikut panik dong. Susternya sambil benerin alatnya sambil benerin kabel tempelan ke badan saya. ADA APA INI. Susternya keluar, masuk lagi, terus hasilnya diprint, terus dia keluar lagi, masuk membawa teman. Temannya ngotak ngatik lagi kabel yang ke badan saya. LOH YAK MAKIN PANIK SAYA. Terus mereka keluar. Masuk lagi susternya, lalu bilang bahwa detak jantung saya abstrak..... haha.... ok.
Katanya detak jantung normal biasanya ada polanya, tapi yang saya abstrak. Bisa jadi karena beberapa hal, baru abis olahraga, sering begadang, sering minum kopi. Lohh... semuanya saya lakukan... saya emang abis jogging paginya, saya juga sering banget minum kopi dan begadang. Hmmm.. now everything make sense. Sejak saat itu, saya bertekad, pikir2 100 kali kalo mau minum kopi ato begadang, karena ternyata ngaruh ke jantungnya serem.
Setelah itu, tes urin dan darah, normal-normal saja. Lalu ke visus, terus yak mata saya silinder, dan baru tau bedanya antara silinder dan tidak ketika saya lihat tanpa kacamata, huruf "O" itu seperti patah, jadi kayak "B". Lalu, xray, normal. Oke kembali lagi ke klinik umum. Katanya hasilnya akan diberikan hari Sabtu/Senin. Hoo ok. masih keburu.
Saya keluar, ke bagian pembayaran. Siapkan uang 500k, pas ditagih totalnya kurang lebih 875k, WTF!! HOW! WAT!!! Jadi yang terjadi adalah ketika dokter menulis tambahan-tambahan klinik itu, berarti uangnya juga bertambah -_________- dan dokternya dengan seenak hati nambahin tanpa bilang ato ngasih peringatan. Saya rasa ini tidak baik, setidaknya dokter bisa menginfokan bahwa harga bertambah. Saya mungkin cuma kapitalis, ada uang tapi gamau ngeluarin, gimana kalo ada orang yang ga punya uang, tiba2 pas ditagih bayarannya nambah...
Ketika saya lihat juga, daftar harganya, saya tidak merasa sesuai dengan layanannya. Terlalu mahal.. misal tes visus, saya diperiksa pakai mesin, yang di warung kacamata depan rumah saya juga ada dan gratis, tapi di RSUI harganya > 100k. Saya tidak merekomendasikan tempat ini...
Yak mau bagaimana lagi, kekapitalisan saya kalah... saya bayar seluruhnya. Keluar rumah sakit dengan sedikit lega dan khawatir, karena mulai merasa.. ini pertanda buruk.




Comments
Post a Comment