Bukan Exchange Biasa : Meminta izin orang tua
Ini adalah tahapan tersulit yang berjalan hingga berhari-hari sebenernya...
Ridho Allah ada pada Ridho orang tua, saya harus bisa
Sepanjang cerita hingga yang ini, saya belum memberitahu ayah saya. Kalau ibu sudah, karena ibu mah selo saja. Sebelumnya saya mengatakan kepada ibu saya bahwa saya harus membuat passport untuk program ini, ibu saya akhirnya menyetujui menemani.
Di suatu saat, kembali dari hotel tempat menginap jadi turis, saya, ibu, dan ayah naik angkot bersama. Di angkot ayah saya memulai percakapan.
Ayah : "Ayah denger ima mau bikin passport ya Kamis nanti, buat apaan sih?"
Saya : *bercerita panjang lebar bahwa daftar exchange dan pembelaan tentang mentor2 terdahulu yang pernah ke luar negeri sebelum menikah*
Ayah : "ngapain sih exchange segala"
Saya : *bercerita panjang lebar tentang motivasi*
*orang2 di angkot mulai melirik ke arah kami*
Ayah : "Ayah cenderung tidak mengizinkan"
Saya : *mencari tahu kenapa tidak diizinkan*
OK. jadi gini, hasil percakapan saya dengan ayah.
- Tentang syariat islam
Dikatakan bahwa perempuan tidak boleh keluar rumah lebih dari tiga hari tanpa muhrim. Saya sebenarnya juga tidak mengetahui apakah saya dibolehkan Allah atau nggak, tapi yang saya tahu, saya selalu berdoa sama Allah, kalau memang yang saya lakukan salah, tolong segera jatuhkan saja, biarlah sakit sekarang, tapi jangan sampai saya berada di jalan yang salah. Namun, ternyata proses masih terus dilancarkan oleh Allah dengan berbagai keajaiban.
Saya bercerita pada Ayah saya, bahwa saya selalu berdoa seperti itu. Jadi harapan saya, ayah saya bisa mengizinkan saya mencoba dan ikut berdoa juga akan hal tersebut. Di tambah lagi, saya agak bingung kenapa bahasan ini tidak pernah diangkat ketika saya kuliah di UI, ngekos, kadang tidak pulang dua minggu. Kenapa tidak pernah diangkat juga ketika teman saya, perempuan yang sangat islami, merantau dari daerahnya, pulang 6 bulan sekali. Saya merasa harusnya itu sama saja, seperti saya pergi satu semester ke Jepang. Saya merasa ini bukan alasan yang tepat, pasti ada alasan lain.
- Kekhawatiran orang tua
Ketika saya gali lebih dalam, yaa... orang tua saya khawatir. Tentuu.. pergi ke negeri nanjauh, gaada keluarga lagi di sana. Apa yang dikhawatirkan? ohh tentu segala aspek; tempat tinggal, makanan, ibadah, penjagaan diri, pergaulan.
Saya coba handle semuanya satu-satu dan saya berikan semua data kepada orang tua saya. Saya katakan dengan baik-baik bahwa saya sudah siap dan menyiapkan hal-hal ini. Ada teman juga yang akan di satu kota dengan saya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
___________________________________________________________________________
Beberapa hari kemudian ayah saya berbicara bahwa dia sudah ikhlas dan terus mendoakan, dengan syarat saya harus memperdalam lagi Taekwondo saya... Ok tidak masalah wkwkk. Selain itu saya diberikan pesan tentang banyak hal, tidak boleh ini tidak boleh itu. Tidak masalah, saya sangat bersyukur hati orang tua saya sudah dilapangkan, sekarang hanya tinggal menunggu yang terbaik dari Allah.
Comments
Post a Comment