The Beauty of Imperfection

A lot of us fear the imperfection. Yaa, tidak sedikit yang gatel dengan ketidaksempurnaan, bukan hanya tentang orang lain tapi juga dirinya sendiri.

Menurut saya, tidak ada yang salah dengan mengejar kesempurnaan. Apalagi secara alamiah, manusia sulit untuk nyaman pada kata "cukup" sehingga terus menerus mengejar sesuatu, salah satunya kesempurnaan. Kalau kita tidak mengejar kesempurnaan, kapan bisa dapat yang benar-benar terbaik? Logikanya gabisa dapet yang terbaik kalo ga dikejar dong. Bahkan umat muslim pun memiliki suri tauladan yang harus dikejar akhlak sempurnanya (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam)

Akan tetapi, kadang kali, yang disayangkan adalah ketika orang takut terjatuh dalam ketidaksempurnaan. Mengutuk dirinya dan orang lain ketika ada yang tidak sempurna, bahkan sampai mati2an mengejar kesempurnaan, lupa batas diri dan terlalu heboh mengejar yang tak pasti. Pokoknya phobia banget deh ketika ada ketidaksempurnaan. Padahal dari ketidaksempurnaan kita belajar banyak hal. Dari ketidaksempurnaan kita bisa bersyukur, mengerti posisi orang lain, kita bisa lebih menerima dan dewasa. Kenapa sih kita ga usah dan ga boleh takut sama ketidaksempurnaan? 


1. Sesuatu yang tidak sempurna di mata kita, itu bisa jadi sempurna di mata Allah

Ada setidaknya 2 ayat Al-Qur'an yang menginspirasi saya pada poin ini. Yang pertama adalah Q.S. Al-Baqarah: 214.


Ternyata Allah sudah mengatakan dalam Al-Qur'an bahwa surga justru diperuntukkan kepada orang-orang yang ditimpa penderitaan, kesedihan, cobaan/guncangan, dll.. Tentunya kepada orang-orang yang yakin dan sabar atas pertolongan Allah. Jika hidupmu sempurna-sempurna aja, tidak ada kesedihan, tidak ada cobaan/guncangan, penderitaan, maka kamu patut khawatir, jangan2 namamu belum ada di list penghuni surga.

Ayat kedua adalah ayat yang berdekatan dengannya Q.S. Al-Baqarah: 216. Di sini kita bisa pahami, ternyata sesuatu yang kita tidak sukai (bahkan ketidaksempurnaan itu) bisa jadi itu memang yang terbaik untuk kita. Dan kesempurnaan yang kita sukai bisa jadi malah sesuatu yang tidak baik untuk kita. Maka ketika jatuh dalam ketidaksempurnaan, yakinilah semoga itu memang yang terbaik yang Allah berikan untuk kita, bisa jadi Allah menyiapkan tempat di surga atas kesabaran dan perjuangan kita. Ketika kita takut tidak sempurna, maka yakini bahwa dibalik ketidaksempurnaan, Allah memberikan sejuta hikmah dan kesempurnaan untuk kita.


Sejalan pada dalil di atas, ustadz nuzul dzikri mengatakan bahwa setiap kekurangan duniawi, setiap hal yang tidak kita sukai dalam rangka taat kepada Allah, itu semua indah di sisi Allah, sempurna di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Jika para akhwat memakai hijab yang membuat panas, berkeringat, di mana berhijab adalah perintah Allah, maka keringat itu wangi di sisi Allah. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=yLgcjnMKJnY)

Satu hal yang melekat dalam memori saya, adalah ketika ayah saya pindah dan berhijrah pekerjaan untuk menjauhi riba kepada pekerjaan yang memberikan penghasilan lebih sedikit, keluarga tentu mengalami kekurangan dalam segi keuangan. Akan tetapi, ternyata kekurangan dalam keuangan tersebut adalah kesempurnaan di sisi Allah. Itu juga prinsip hidup ayah saya, bukan lagi "berani" terjatuh pada ketidaksempurnaan, tapi juga mengejar ketidaksempurnaan duniawi untuk mendapatkan wajah yang sempurna di sisi Allah, bahkan dengan sengaja. Masya Allah..


2. The power of tawakkal

Tidak takut pada ketidaksempurnaan juga merupakan salah satu bentuk tawakkal. Kita perlu sadar kalau semuanya ada di tangan Allah, semua terjadi atas kehendak Allah, di mana manusia diberikan kesempatan untuk berikhtiar melalui usaha dan doa. Ketika kita yakini sepenuhnya bahwa semua terjadi atas kehendak Allah, maka bagaimana bisa kita takut dan tidak terima dengan keadaan termasuk ketidaksempurnaan? 

Ketika kita takut tidak sempurna, maka serahkan semuanya kepada Allah, bertawakkal sepenuhnya dan yakini bahwa kita memang tidak bisa sempurna tanpa bantuan Allah. Ketika kita takut tidak sempurna, maka banyak berdoa kepada Allah dan berikhtiar, pada akhirnya yakini semua hasil adalah yang terbaik untuk kita atas kuasa Allah. Terima dan bersabar, maka hal itu akan jadi kesempurnaan di sisi Allah  seperti pada poin 1 :) Jangan lupaa bersyukuur! :)

Maka hancurkan ketakutan akan imperfection dengan tawakkal!


3. Everyone, you and me, is imperfect

Ketika kita tau kalau kita cuma makhluk Allah yang jauh dari kata sempurna, terus kenapa kita takut akan ketidaksempurnaan?? Kita mungkin berusaha mengejar kesempurnaan, tapi jatuh pada ketidaksempurnaan adalah kodrat manusia, manusia memang tidak sempurna, maka kalau suatu saat jatuh di ketidaksempurnaan, kenapa harus takut?

Ketika suatu saat menyadari adanya suatu ketidaksempurnaan dari diri sendiri, tidak ada yang harus disalahkan, karena memang secara default manusia tidak sempurna. Begitu kita memahami dan mennyadari hal ini, bahkan bukan hanya menerima ketidaksempurnaan diri sendiri, tapi kita juga bisa menerima ketidaksempurnaan orang lain loh :) Karena kita sadar, semua manusia, kamu, aku, dia, kita default nya emang ga sempurna kok. Jadi jangan takut untuk berada dalam ketidaksempurnaan. Justru kita ada, untuk saling melengkapi, jadi terima ketidaksempurnaan itu dan lengkapi sebisanya. Sekali lagi, jangan lupa bersyukur :)


4. Pareto analysis, part of time management

Ternyata jadi sempurna itu capek banget loh. Dalam teori pareto analysis, untuk memperoleh hasil 80% tuh kita cuma butuh 20%, tapi kalau kita mengejar 100% itu grafiknya sangat curam, bahkan mungkin kita butuh mengeluarkan 80% effort buat menghasilkan 20% hasil doang. Dalam hitung2an manusia ini rugi banget dong :((

Kadang kita ga sadar, kalo buat mengejar sesuatu yang sempurna, effort yang dikasih pun harus sempurna atau mendekati sempurna ditambah dengan sedikit keberuntungan. Ketika kalian berada di 80%, pikirkan baik2 apakah sampai pada 100% itu penting? karena untuk sampai ke 100%, berkali2 lipat effort dari sebelumnya akan dibutuhkan. Maka ketika kita memilih untuk stay di 80%, itu bukan hal yang buruk kok :) You're totally doing fine and smart to not let your efforts wasted, bahkan kamu bisa mengalokasikan 80% effort kamu untuk hal lain yang lebih bermanfaat kan.

Kalo itung2an kasar nih, orang yang ngejar kesempurnaan dengan 100% effort cuma bisa ngerjain 1 task. Orang yang stay di 80% hasil dengan 20% effort, bisa ngerjain task 4-5 kali lipat lebih banyak dibanding yang mengejar kesempurnaan. Tentunya effort nya harus dipilih2 mana yang memang relevan dan efektif dengan hasil yaa...


5. Fokus pada kualitas, jangan kuantitas

Kebanyakan orang mengukur ketidaksempurnaan dari kuantitas. Ga dapet nilai 100, dll.. Sadar ga sih, Allah tuh ga pernah sedikit menuntur kita buat sempurna, atau dapet IP 4 bahkan nggak untuk IP 3, lulus 3.5, atau ikut 2 organisasi 1 kepanitiaan dalem 1 tahun, atau hafal 10 juz dalam 1 bulan. Bahkan Allah menurunkan ruhshah untuk orang sakit agar berbuka. Apa yang kita lakukan, angka yang kita raih, kesempurnaan angkanya, itu nilainya cuma palsu loh. Karena yang Allah nilai sebenar2nya, nilai yang memberatkan timbangan kita nanti adalah dari segi kualitas. Pasti beda di sisi Allah antara mahasiswa dapat IP 4 tapi bukan karena Allah dan mahasiswa yang dapet IP 3 tapi semuanya dia lakukan karena Allah. Semua angka yang manusia kenal di dunia itu fana dan palsu, bisa jadi berbeda di sisi Allah tergantung dari kualitasnya.

Maka, lebih sadar lagi lah kenapa kita milih jalur itu, kenapa kita memilih suatu hal untuk dilakukan/dikejar. Yang kita lakukan tidak harus sempurna, yg penting kita sepenuhnya menyerahkan niat ke Allah, perhatikan kualitas niat kita, dan lakukan yang terbaik (all out!!!!). Satu hal yang penting: banyak kegiatan ga menjamin semuanya diterima Allah, dan sedikit kegiatan bisa jadi bikin kita lebih fokus untuk ibadah kepada Allah :) Sekali lagi angka itu bukan segalanya, 100% sempurna di mata manusia jika kualitasnya buruk, maka akan jatuh di sisi Allah, berlaku juga sebaliknya.


__________________________________________________________________________________

Jadi setelah semua hal ini, yakin masih takut untuk tidak sempurna? :)

Comments

Popular Posts