LPDP Journey by Luulz
Kamu mesti kudu baca ini kalau mau apply LPDP!
Kunjungi juga notion saya di:
https://luluilmaknun.notion.site/LPDP-Journey-by-Luulz-42d66b8f50d24e0da9d1cbe61f1bc72c
Saya kenal LPDP dari tahun 2020, saat itu memang sedang mencari beasiswa untuk berkuliah di tahun 2021 (rencana sehabis S1 langsung lanjut S2). Tapi dulu LPDP 2020 tidak menyediakan beasiswa untuk "kalangan biasa" (wkwkwk apa daya aku melihat 10 univ tertinggi dunia), yang ada hanya PMDSU dan PTUD kalo ga salah. Akhirnya sekip lah mikirin LPDP sampai lulus kuliah. Pas lulus kuliah mulai lagi mencari2 informasi S2. Niat awal ingin lanjut S2 di Fasilkom UI sudah kandas diterpa pandemi karena tidak ada beasiswa-beasiswa yang tersedia, tidak ada fast-track, tidak ada beasiswa TA, dll. Akhirnya perlu mencari cara, yang mana saat itu yang terlintas hanya LPDP, AAS, atau beasiswa master's by research dari univ/lab langsung. Beasiswa2 ini umumnya tersedia buat luar negeri sih. Tapi dulu sebenarnya pilihan yang saya pasang di otak hanya 2, fast-track di Indonesia atau kuliah ke luar negeri sekalian (sebagai bayaran penantian panjang).
Kurang lebih dari bulan Maret 2021 sebenarnya saya sudah mempersiapkan untuk mendaftar ke LPDP. Motivasi awal muncul karena mentor pasca kampus saya sendiri adalah seorang mantan awardee LPDP. Saya melihat bahwa awardee2 LPDP itu orangnya kece2 loh, pemikirannya sangat maju dan bijaksana, terlintas di pikiran saya kalau jadi awardee LPDP kayaknya enak banget ya, selain dibiayai kuliah kita bisa dapat koneksi ke orang2 hebat. Jadilah saya tergiur untuk mencoba LPDP. Saya berencana untuk sesegera mungkin daftar LPDP karena merasa perjalanan pasca kampus saya mentok, gabisa ngapain2 kalau ga S2.
Awalnya minder lah yak, karena masih fresh graduate, terus belum diterima di universitas manapun, publikasi juga belum punya. Tapi ternyata setelah saya baca kembali informasi di website LPDP, ternyata ga perlu udah punya LoA, fresh graduate pun bisa daftar loh, publikasi apalagi lah itu ga masalah. LPDP 2021 ini ada 2 Gelombang/tahap, Tahap 1 (May 2021) maupun 2 (Sep 2021) bisa diikuti untuk jalur LoA dan non-LoA. Untuk Tahap 1, paling cepat berkuliah adalah Sep 2021, sedangkan Tahap 2 adalah Jan 2022. Akhirnya mantap lah hati ingin mendaftar LPDP Tahap 1 di bulan May (deadline 31 May). Tapi ternyata banyak badai menghadang sehingga saya terbawa arus ke Tahap 2 di bulan September. Berikut gambaran timeline untuk tahap 2:
Administrasi
Kurang lebih sebelum memulai seleksi apapun, saya selalu membuat list ToDo, agar mudah keeptrack requirements. Berikut ToDo yang saya buat untuk seleksi Administrasi (siapa tau bisa membantu teman2 yang lain juga)
Pertama kali mempersiapkan berkas adalah recommendation letter di bulan Maret, yaitu meminta izin kepada dosen-dosen pilihan saya untuk melanjutkan S2 dan izin untuk stay in contact karena butuh surat rekomendasi terlepas di manapun saya mendaftar. Mereka semua sangat open dan berkata bahwa saya tinggal kirimkan saja yang dibutuhkan, draft/template, poin2, atau semacamnya. Alhamdulillah...
Di awal May, sudah membulatkan tekad untuk mendaftar LPDP sehingga bisa kuliah di bulan September. Kebetukan univ incaran saya juga deadline nya bulan May, jadi bisa jalan berbarengan. Di awal bulan May, saya sudah banyak melakukan literasi hingga membuat outline essay LPDP. Akan tetapi, ada 2 hal yg menghambat saat itu. Pertama, saya diterpa badai COVID-19. Saya sekeluarga harus dirawat di RS selama kurnag lebih dua minggu. Alih2 fokus menyiapkan beasiswa, saya malah harus fokus ke kesehatan saya. Kedua, saya salah membaca informasi (ini kenapa literasi itu penting banget!!!). Saya mengira LPDP dan universitas akan bisa berjalan berbarengan hingga kuliah di September nanti, jadi tidak butuh LoA dulu gitu karena kan saya baru mau daftar univ nya ya, jadi ga mungkin tiba2 keluar LoA, sedangkan deadline mereka berbarengan. Ketika saya mengisi formulir online LPDP saya bingung, kok tidak ada pilihan untuk memulai perkuliahan di Sep 2021. Ternyata oh ternyata di web dikatakan bahwa kuliah paling cepat September 2021 itu hanya untuk yang sudah memiliki LoA, bagi yang belum baru bisa mulai di Feb 2022. Menimbang2 segala beban deadline dan pekerjaan, akhirnya saya ikhlaskan Tahap 1 dan bertekad ke Tahap 2. Tohh.. Tahap 1 maupun Tahap 2 mulai perkuliahannya sama saja.
Di bulan Juli 2021 saya mulai serius menyiapkan berkas. Waahh awal banget ya... (tapi sebenenrya pasti ada yang lebih awal ga si ahahhah) ya iyalah kalo mau hasil terbaik mesti usaha terbaik lah, masa iya mau dapet terbaik tapi usaha seadanya, jadi saya sudah sangat bertekad untuk siap, bulan Juli sudah jalan. Berkas-berkas yang dibutuhkan LPDP kurang lebih (yah ini bisa kalian cek lah di website)
- Essay komitmen 1500 - 2000 kata
- Essay personal statement 1000 - 1500 kata
- Surat rekomendasi
- Transkrip
- Ijazah
- LoA (jika sudah ada)
Hal pertama yg saya siapkan adalah essay komitmen di pertengahan Juli 2021, karena saya yakin ini dokumen inti dan yg paling berpengaruh buat aplikasi beasiswa saya. Saya mengembangkan essay dari outline yang sudah saya buat di bulan May. Membuat essay juga sangat niat, saya buat diagramnya, pakai referensi segala, saya ambil batas maksimal katanya, essay saya terdiri dari 1996 kata, pokoknya ga main2. Sejujurnya saya sangat menikmati proses pembuatan essay ini, karena saya jadi mengetahui dengan jelas apa yang ingin saya kejar, ke mana saya akan pergi, semuanya saya tuangkan di essay. Setelah essay selesai, saya diamkan beberapa hari untuk dibaca kembali. Kenapa?? untuk melihat ada yg salah atau tidak, karena kalau kita diamkan biasanya pikiran kita akan direset dan seperti membaca essay yang baru, dengan itu akan lebih mudah melihat kesalahan kita. Lalu saya juga meminta bantuan proof-read dari setidaknya 3 orang, ketiganya awardee LPDP. Alhamdulillah essay saya udah kece... Outline dan isinya bisa dilihat di sini, ini pure saya rangkai sendiri sih:
https://drive.google.com/drive/folders/1iVXbAzKt97vHdW4hunb_zbM_Z0vTdc25?usp=sharing
Di akhir bulan Juli, saya mendaftar ke UNSW untuk dapat LoA sehingga bisa dipakai mendaftar. Qadarullah, ternyata saya belum bisa menyediakan dokumen translasi ijazah saat itu karena layanan resmi UI ditutup terkait PPKM. Akhirnya saya komunikasikam ke UNSW terkait kendala tersebut, lalu saya mendapat LoA, tapi tapi tapi ternyata LoA nya conditional... dengan syaratnya adalah dokumen translasi ijazah. Saya coba tanyakan ke call center dan bantuan LPDP, apakah LoA ini bisa digunakan atau tidak, ternyata jawabannya sudah mantap tidak bisa. Akhirnya saya mendaftar tanpa LoA. Sebenarnya ada nilai plus dan minus untuk mendaftar tanpa LoA, yaitu saya masih bisa mencoba di berbagai universitas. Dan ini sesuai dengan harapan saya, karena kalaupun daftar dengan LoA, jika dapat di univ yang lebih bagus, saya akan mengajukan perpindahan.
Lalu di awal bulan Agustus 2021, saya mengurus surat rekomendasi. Rencana saya adalah menyertakan surat rekomendasi dari 2 orang, dosen yang dekat dengan saya dan peneliti sekaligus psikiater pembimbing skripsi saya. LPDP sendiri tidak state berapa surat/orang yang dibutuhkan, jadi saya maunya ngasih yang terbaik gitu, lebih dari satu. Qadarullah wal hamdulillah saya hanya mendapat 1 dari dosen saya karena pembimbing saya sedang ada permasalahan kesehatan. Dosen saya, saya sudah sangat kenal dekat, beberapa kali juga meminta rekomendasi beliau untuk program lain. Beliau itu tipe yang tinggal tanda tangan, maka ketika mengajukan surat rekomendasi, saya sudah siap membuat draft nya. Dengan kata lain, saya harus menulis draft rekomendasi untuk diri sendiri yang ditanda tangani dosen tersebut X,X
Untuk menulis surat rekomendasi, template sudah ada di ketentuan LPDP, hanya tinggal kita menulis isi rekomendasinya. Isi rekomendasi pun saya tidak sembarangan, saya meminta tips dari seorang kakak tingkat awardee LPDP juga. Dari dia saya diberikan tips strktur surat rekomendasi yang baik, apa2 saja yg harus diceritakan. Lalu saya elaborasikan dengan perspektif dosen saya sehingga jadilah surat rekomendasi super geer nan keren untuk mendaftar LPDP. Kurang lebih memakan waktu 2 minggu untuk surat rekomendasi, karena tentunya dosen tidak gabut, jadi saya harus menunggu beberapa hari untuk dosen menjawab. Oiyaa semua informasi tentang teknisnyaa (apa2 saja yang harus dimasukkan ke surat rekomendasi) sudah tersedia di halaman sebelah.
Di pertengahan Agustus 2021, saya mengerjakan essay personal statement. Awalnya agak bingung sih, karena LPDP tidak define personal statement ini isinya apa dan jadinya agak tertukar2 dengan essay komitmen. Setelah melakukan literasi, saya men-define personal statement adalah tempat saya menjual diri saya, membuktikan saya mampu dan lebih detail menjelaskan mengapa saya ingin melanjutkan studi di tempat pilihan saya. Jadi poinnya berbeda dengan essay komitmen yang poinnya dimulai dari permasalahan di Indonesia dan kontribusi kedepannya. Membuat personal statement tidak lama, saya mengarang bebas sambil menjual diri, menggali potensi apa yang perlu saya sampaikan. Kurang lebih saya menggunakan struktur berikut ini untuk personal statement:
Source: https://indraziru.wordpress.com/2018/08/29/tips-ampuh-personal-statement/
Seminggu sebelum deadline pendaftaran, yaitu akhir Agustus, saya fokus mengisi formulir online. Perlu diingat ternyata mengisi formulir online LPDP itu ga bentar!! (pengalaman buruk juga dari YTB dan AAS yang ga jadi daftar karena kelamaan ngisi formulir online). Saya juga baca itu dr pengalaman orang2, jadi jaga2 dari 2 minggu sampai 1 minggu saya sudah mencicil formulir online. Formulir online ini saya isi sejujur2nya aja, seada2nya, males juga dibuat2 wkwk mikirnya lama. Saya juga membuatnya tanpa metode2 apapun, cerita saja apa yang ingin saya ceritakan. Beberapa orang bilang bahwa bagian2 short essay itu bagus jika dibuat dengan metode STAR/PAR dengan menceritakan spesifik mengenai suatu kejadian. Tapi karena saya belum tau saat itu, jadi yaudah bebas aja aku mah. Berikut beberapa rincian di formulir online dari yang saya pahami:
-
Data diri (ini wajib pasti ada sebelum daftar beasiswa)
Ini biasa lah isinya ditanya tentang data pribadi dan orang tua, termasuk gaji dan pekerjaannya -
Kelebihan dan kelemahan (list)
Saya menyebutkan kelebihan dan kekurangan yang relevan. Untuk kekurangan, saya sebutkan hanya yang saya yakin sudah dapat menanganinya dan sudah tidak mengganggu lagi heheh karena kalau menulis kekurangan yang belum tuntas, malah jadi boomerang nanti. -
PENGALAMAN MEMBANGGAKAN (short essay)
Saya menceritakan pengalaman membanggakan yang relevan dengan gamabran kontribusi saya kedepannya. Yang saya highlight saat itu adalah kemampuan penelitian, sehingga saya menceritakan tentang pendanaan penelitian international yang pernah saya dapatkan. -
PENGALAMAN KURANG MEMBANGGAKAN (short essay)
Saya sebenenrya ragu sih pas ngisi ini, karena kata2nya "kurang membanggakan" bukan "tidak membanggakan". Interpretasinya mungkin beda dengan "pengalaman paling menyakitkan". Jadi saya menekankan pada pengalaman yang masih sedikit membanggakan bagi saya tapi juga tidak membanggakan, ada kegagalan di dalamnya, tapi justru ada nilai plus yang saya ceritakan dalam diri saya dalam menangani kegagalan tersebut. -
KESALAHAN YANG PERNAH DILAKUKAN SELAMA BELAJAR/BEKERJA (short essay)
Kesalahan ini katanyaa... katanya sih bagusnya nulisnya sesuatu kesalahan yang kamu belajar darinya. Jangan sampai kamu menuliskan kesalahan saja, tapi ga belajar apa2, yaa malah menunjukkan kekuranganmu. Kalau saya jawab filosofis banget sih, "kesalahan hati" ahahah ada yang bilang bagusnya kesalahan gini tulisnya sesuatu yang teknis, sehingga hikmah yang didapatkan lebih konkret dan step perbaikannya juga lebih baik. Contoh kesalahan teknis, misal ceroboh ketika melakukan sesuatu bisa diperbaiki dengan re-check. -
HAL TERAKHIR YANG DIAJARKAN PADA DIRI SENDIRI (short essay)
Wah ini juga sama, saya jawabnya filosofis banget ahahahahh. Konon katanya sih ini buat melihat seberapa tinggi kemauanmu untuk belajar. Saya pribadi dulu berniat untuk menonjolkan bahwa saya belajar sesuatu di luar kemampuan saya, di luar penguasaan saya, sehigga diri saya harus berjuang lebih di dalamnya. Yaitu saya belajar tentang sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan mental. -
TUGAS DI LUAR RUANG LINGKUP YANG SEHARUSNYA (short essay)
Ada yang bilang, bagian ini dipakai untuk melihat seberapa kamu berani untuk keluar dari zona nyaman. Saya ceritakan lah banyak hal mulai dari selalu mengerjakan pekerjaan 100% dan bahkan lebih setiap ada kesempatan sampai saya juga senang belajar di luar perspektif ilmu komputer (ilmu yang saya dalami). Kayaknya ini poin plus karena LPDP sendiri punya nilai "perfection", jadi mengejar 100% itu adalah hal yang kudu banget. Saya menceritakan banyak hal di sini, tidak fokus pada satu event saja.
-
PEMBEDA DARI PESERTA LAINNYA (short essay)
Ini yang bikin mikir lama ahahah bingung juga, biasanya orang2 di bagian ini itu menceritakan mengenai sifatnya dengan menceritakan spesifik pengalaman. Saya dulu mengira hal itu adalah sesuatu yang lame dan mainstream, gak gak gak saya gak suka yang mainstream. Jadi ngidelah membuat suatu pembeda yaitu "menjembatani riset bidang ilmu komputer dan psikiatri di Indonesia". Waduu,, berat banget, tenang nanti di tahap wawancara saya nyesel. Yuk baca sampe tahap wawancara.
Saya sempat konsultasi dengan mentor saya tentang bagian ini setelah submit. Katanya justru menceritakan pengalaman ayng menjurus ke sifat kita itu pembeda yang bagus loh, karena cerita setiap orang itu pasti unik dan beda. Kalau soal potensi doang, menjembatani doang, semua orang bisa kok, asal ada tren nya, resourcenya.
-
Riwayat Pendidikan (dari SD - Higher degree, siapin nilainya ya kawan)
Yah ini biasalah kawan, tapi yang ga biasa adalah ditanyain sampe ke SD juga, alhasil saya mesti ngoprek2 dokumen lama
Riwayat Pekerjaan
Saya sejujurnya di tahun ini banyak bekerja, jadi asisten dosen, asisten riset, dan bantu2 riset di IMERI. Tapi tidak saya cantumkan karena khawatir dipertanyakan kontraknya (karena saya ga punya kontrak). Lalu kemudian saya sadar, saya menyesal, harusnya hal2 tersebut dimasukkan saja, toh ada kontrak ataupun tidak itu bukan kesalahan kita, jadi setidaknya apapun yang kita kerjakan ditulis saja, apalagi kalau sebagai fresh graduate udah keliatan banyak kerja, kan keren.
-
Pengalaman Organisasi
Saya menuliskan dengan hanya pengalaman organisasi saja, sedangkan kepanitiaan tidak. Tapi hal itu justru yang saya sesali, kayaknya sih seharusnya kepanitiaan dan volunteer dimasukkan saja di sini. Tidak ada bagian lain yang lebih relevan untuk memasukkan pengalaman tersebut selain di bagian organisasi. -
Prestasi
Prestasi ini saya isi dengan sesuatu yang saya capai dengan cara kompetitif, atau menjatuhkan lawan main, seperti kejuaraan, olimpiade, dll.
-
Bahasa
-
Pengalaman pelatihan/workshop
Ini saya bingung sih ngisinya, karena udah kebanyakan, terus bingung gimana ngisinya karena gaada keterangan kita sebagai apa di pelatihannya. Jadi saya cenderung mengisi pengalaman di sini dengan pelatihan2 yang saya menjadi peserta di dalamnya. Adapun yang jadi panitia atau pembicara, saya masukkan ke bagian seminar (kayaknya kurang tepat, tapi yaaa mau di mana lagi gitu loh, kan tetep pengen di include).
-
Pengalaman riset
Pengalaman riset saya bantai, riset kecil2an pun saya tulis, misal riset buat tugas akhir suatu mata kuliah saya tetap tulis, walaupun ga semuanya sih ahahhah pokoknya yang relevan2 sama studi saya masukin.
-
Karya Ilmiah
Karya ilmiah asumsi saya maksudnya semacam publikasi, berbeda dengan pengalaman riset yang tidak harus dipblish. Karena saya ga publish apa2, jadi ga saya tulis. Gatau kalau numpang research gate atau semacamnya gitu mungkin bisa2 aja ditulis (?) karena bisa ditulis publishernya. Tapi saya males, jadi saya kosongkan saja. -
Konferensi dan Seminar
Nah ini bagian paling membingungkan menurut saya. Di sini konferensi dan seminar itu maksudnya apa, karena terkadang melihat kata konferensi di bayangan saya ini semacam yang keren2 gitu jadi pembicara untuk poster penelitian dsb.. Tapi di samping itu juga ada seminar, di bayangan saya seminar kan yaudah orang ngomong di depan kayak biasa, jatuhnya jadi kayak pelatihan dong. Jadi agak bingung ini konteksnya gimana. Akhirnya cara saya membedakannya dengan pelatihan adalah melihat peran, kalau sebagai peserta ditaruh di pelatihan/workshop, kalau sebagai pembicara/panitia ditaruh di konferensi dan seminar. Aneh sih dan ga yakin bener, tapi banyak hal juga yang pengen saya tonjolkan di bagian ini, jadi yasudah tulis saja. -
Penghargaan
Penghargaan saya bedakan dengan prestasi adalah dengan melihat bahwa saya tidak harus menjatuhkan orang untuk mendapatkan penghargaan. Penghargaan juga biasanya didapatkan dengan yaudah tiba2 aja, mungkin dibilangnya otomatis kali ya (?) tanpa usaha menjatuhkan orang lain, tanpa kompetisi.
-
Dokumen requirements (Surat Rekomendasi, Ijazah, transkrip, sertifikat bahasa asing, KTP)
-
Essay komitmen
Di bagian ini sebenrnya ada yang bikin panik sih, karena di form untuk menulis essay, itu tidak ada tempat yang membedakan mana bagian referensi dan tidak. Sedangkan saya yang idealis ini sangat2 meribetkan diri sendiri dengan gambar diagram dan menulis referensi. Kalau referensi saya ikutkan dalam essay saya, maka bisa2 essay tidak diterima karena >2000 kata. Kalau tidak diikutkan, jadi tidak relevan dong, dan tidak kredibel juga. Saya menemukan solusi. Form online ini bisa menerima gambar, jadi saya screenshot bagian referensi untuk saya tempelkan sebagai gambar di essay. Alhasil sangat kece.. sangat bangga. -
Essay Personal Statement
Setelah mengisi semua ini. Saya diamkan aplikasinya selama beberapa hari, lalu kembali lagi dengan tujuan melihat apakah ada kesalahan yg tidak disengaja. Setelah yakin, di sekitar tanggal 1 September saya submit pendaftaran.
Mungkin salah satu hal paling disesali saat itu adalah menyia2kan pengalaman. Banyak sekali informasi yang tidak saya include, pengalaman volunteer 10 kali hilang, kerja sebagai asisten riset tidak saya tulis, yaa pokoknya banyak yang skip... dan qadarullah baru disadari setelah submit, tapi yaudahlah udah submit, tidak ada yg bisa diubah lagi. Kabar baiknya, kalau saya masuk ke tahap wawancara, pasti akan ada kesempatan untuk menyebutkan semua hal itu!!
Pengumuman seleksi administrasi, tidak begitu menegangkan karena ya sudah ekspek pasti banyak yang lulus. Saya pun lulus.
💡 Kayanya inti bagian ini adalah, selama mengikuti requirements lulus kok. Dan setau saya, di tahap ini belum ada penilaian, hanya melihat kelangkapan berkas.
Mungkin rangkuman tips and trick nya ini sih:
- Perlu diingat, semua yang kalian tulis di tahap ini, akan dipertanggung jawabkan ketika masuk tahap wawancara. Jadi BE HONEST and BE YOURSELF aja, sugar coat perlu sih, tapi jangan lebay ahahahh
- Jangan toleransi requirements. Kalo requirements butuh ini, yaudah ikutin aja.. kecuali keadaan mendadak banget ya silahkan dikomunikasikan dengan LPDP melalui tiket bantuan. Tapi jangan kebanyakan toleransi deh, main aman aja.
- Jangan deadliner. Karena banyak yang mesti diisi + kalo deadliner kita cenderung lupa banyak hal.
- Fokus sama hal-hal yang penting duluan, kayak essay komitmen. Essay komitmen itu kayaknya sih fokus banget deh.. kayak motivasi kamu, komitmen kamu, rencana kamu, semuanya ada di situ dan mostly itu yang dinilai sama LPDP, itu yang bakal dipertanyakan di saat wawancara. Fokuskan waktu dan pikiran lebih banyak ke yang penting, yaitu essay komitmen.
- Pakai alur berfikir yang konkret dan rapih. Make sure dari mulai masalah di Indonesia sampai kontribusi kedepannya ituu punya alur yang memang make sense dari awal.. Jangan sampai kalian ga paham sama alur kalian sendiri, gimana cara mencapainya, dll. Contoh framework yang bisa dipakai kayak gini (buatan saya sendiri dengan masukan beberapa orang heheh)
Substansi Akademik dan Kebangsaan
Alhamdulillah, ketika tahu saya lulus administrasi LPDP, banyak teman yang ingin membantu. Salah satunya ada Kakak Tingkat yang menyampaikan informasi tentang sebuah grup Telegram untuk belajar tes LPDP. Saya masuk ke grup itu. Maa syaa Allah di dalamnya sangat bermanfaat. Beberapa hal yang saya dapatkan di grup:
- Banyak sumber materi belajar
- Latihan bersama beberapa kali (walaupun saya cuma silent reader, liatin aja dengan mute)
- Tiap hari ada aja yang ngirimin soal di grup, bikin saya rutin belajar
- Motivasi kuat karena tiap hari ngeliat orang2 pada siap, aku kapaaannnn
- Banyak banget yang memberikan link2 simulasi
Pokoknya di masa substansi akademik, saya sangat terbantu paling banyak dari simulasi. Di tahap seleksi ini, muncul rasa ingin membagikan ilmu dan cerita, tidak ingin orang merasakan kesulitan yang saya alami atau mengulang2 hal yang saya lakukan dari awal. Jadi ingin sekali, nanti kalau ada yang daftar LPDP, bisa memanfaatkan resource yang saya gunakan saat ini sehingga tidak perlu memulai semuanya dari awal.
ToDo saya untuk seleksi Substansi Akademik dan Kebangsaan adalah sebagai berikut:
Oiya yang paling saya takut di seleksi tahap ini sebenarnya adalah kebangsaannya.. karena melihat seleksi TWK nya CPNS, kok merinding. Materi TWK itu kan mencakup hal-hal seperti sejarah Indonesia, tentang UUD lah, dsb. yaa mana kuat saya menghafal semua itu. Tapi mau gamau mesti diperjuangkan. Alhamdulillah... sebelum memulai persiapan apapun, saya banyak berbincang dengan awardee tahap 1. Ternyata oh ternyata kebangsaan di sini adalah tentang "toleransi". Jadi soalnya lebih ke arah kasus, kita diberikan kasus, bagaimana kita menanganinya dengan sikap toleransi. Banyak yang bilang untuk bagian ini sudah tidak perlu belajar, karena ternyata pun jawabannya tidak dinilai, tidak ada salah benar, semua kembali ke hati kita. Tapi karena tetap ingin berusaha, saya tetap belajar untuk seleksi kebangsaan dengan mencari2 tahu mengenai toleransi.
Masuk ke persiapan pertama yang saya lakukan di seleksi ini adalah mengumpulkan sumber belajar. Prinsip saya, kumpulkan sebanyaak2nya agar bisa dipakai belajar oleh generasi selanjutnya (eaa, maksudnya siapapun yang ntar daftar bisa belajar dari hasil jerih payahku juga). Akhirnya saya muter2 ke sana sini, twitter, blog, grup telegram sampe ke atas2, menemukan lebih dari sekedar belajar LPDP doang, tapi juga sumber belajar lainnya yang kemudian saya rangkum dalam bit.ly/academic_tests. Isinya lengkap, karena sudah saya kompilasikan, belajar bahasa inggris, GRE, GMAT, LPDP, dll.
Persiapan kedua adalah belajar. Dengan prinsip bahwa ilmu saya bisa digunakan orang lain, saya merangkum materi belajar dari berbagai buku, sehingga terbentuk lah apa yang ada di notion saya saat ini. Capek?? Wahh kalau menyangkut ilmu yang bisa dibagikan ke orang lain, bisa membantu orang lain, saya sangat tidak capek, malah sangat antusias. Ini yang membantu saya untuk keepup terus belajar untuk LPDP. Kalau dipikir2 tidak pernah saya merasa sedikitpun terbebani dengan belajar untuk tes, karena motivasi saya adalah saya menjalani ini, untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Bener2 powerful rasanya motivasi tersebut.
Di proses belajar juga, saya sering ikut pertemuan sinkronus belajar bersama teman2 di grup telegram setiap ada kesempatan walaupun cuma mejeng, melihat bagaimana manusia2 menjawab soal tes LPDP. Tapi mungkin ada sedikit kecewa waktu ikut pertemuan sinkronus saat itu, bahwa ada pengajar yang bisa dibilang mengajarkan pengetahuan yang kurang benar. Saya kurang lebih anak ilmu komputer dan logika matematika sudah sangat lekat di hati, dan ketika mendengar yang diajarkan ini agak panas. Orang2 semuanya pun nurut dengan pengajar, walau sempat dipertanyakan kebenarannya saat diskusi. Dari situ, berkembang juga tekad saya buat memfasiliitasi adik2 tingkat saya jika ingin mengikuti LPDP, agar tidak terjatuh ke dalam ilmu yang sesat diajarkan oleh orang lain.
Alhamdulillah juga materi2 di seleksi substansi akademik ini banyak yang saya pelajari ketika berkuliah dulu, seperti logika matematika. Jadi saya tidak terbebani dengan materinya sama sekali, paling kesulitan di bagian penalaran verbal. Itu saya atasi dengan banyak2 latihan dan menghafalkan beberapa kosa kata. Untuk bagian kuantitatif, sebenarnya cukup biasa, paling sulit itu kecukupan data. Karena saya tahu kecukupan data ini diambil dari GMAT, jadi saya langsung belajar dari buku2 GMAT. Untuk pemecahan masalah, ini bagian tersulit dari yang tersulit kayaknya aahahah jawab soal Bahasa Indonesia dalam waktu singkat. Cara ampuh saya belajar adalah memahami tips n trick membaca cepat dan banyak2 berlatih dengan time limit. Percaya deh, semuanya tuh sebenernya mudah, kalo waktunya banyak, semuanya soal waktu... sering2 aja latihan pake waktu.
💡 Nahh ini tips ampuh dari saya yang saya formulasikan sendiri:
Selama belajar, saya menemukan banyak sumber simulasi soal di grup telegram (ada di notion LPDP Journey by Luulz). Saya banyak berlatih dan mencatat skor saya selama satu minggu sebelum tes. Jadi setelah belajar dan merangkum, satu minggu khusus saya dedikasikan untuk simulasi. Nahh dari hasil skor2 simulasi ini, saya mempelajari statistiknya yang menggambarkan kemampuan saya di setiap bagian. Statistik ini saya pakai untuk memasang target di beberapa hari sebelum tes. Target saya waktu itu, total skor 185, kuantitatif 90, verbal 65, pemecahan masalah 30. Hal ini karena orang2 bilang, 180 adalah PG untuk tahap sebelumnya, dan dari beberapa simulasi, saya merasa memang 185 itu angka yang ideal untuk saya.
Perlu disadari! Susah banget dapet skor sempurnaa!! Jadi saya fokus sama target daripada mengejar untuk menjawab semua soal. Sebagian besar waktu saya dedikasikan ke target saya. Tapi di samping mengejar target itu, saya tetap berusaha menjawab semua soal (tohh gaada nilai minus) walaupun mesti ngasal ahahah.
Misal untuk pemecahan masalah itu waktunya hanya 20 menit untuk 12 soal. Normalnya kan berarti 1 soal itu 1,5 menit. Seriusss deh itu susah banget kalo mau ngejar jawab semua soal. Jadi strategi saya, kalau target saya adalah 30, berarti saya spare waktu lebih banyak di minimal 6 soal daripada soal-soal lainnya. Misal alokasi waktu saya berubah menjadi 6 soal dikerjakan selama 2,5 menit, sisanya 1 menit 1 soal.
Jadi pandai2 saja mengetahui kemampuan sendiri dan mengelola waktunya.
Satu hari sebelum tes, saya tidak belajar lagi. Saya fokus ke mempersiapkan teknis, di antaranya
Selama beberapa hari sebelum tes, sebenarnya saya malah sakit, akhirnya tidak begitu maksimal dalam belajar. Sempet *insecure*, sampe minta doa dari banyak orang biar dilancarkan saking khawatirnya gabisa belajar maksimal. Tapi saya percaya, ini cara Allah untuk menundukkan hamba-Nya dalam doa, untuk bisa mendengar tawakkal dan serah diri. Maka saya serahkan diri saya sepenuhnya kepada Allah di samping berusaha terus sesuai kemampuan saya yang terbatas.
Sampai hari tes berlangsung, saya masih agak sakit. Sedihnya saya dapat jadwal tes di hari pertama dari 3 hari tes. Akhirnya saya memilih untuk mengambil tes di jam 13.00 agar tidak terlalu pagi (takutnya masih banyak gangguan jaringan) dan tidak terlalu sore (otak belum gosong). Wahh, lagi sakit, deg2an, gimana gimana gituu.. mana sebelum tes saya mendengar testimoni orang2 yang sudah tes, ada kendala ini lah, itu lah, soalnya susah lah. Waduuuu kacau.
Ingat sekali waktu itu, orang2 mendoakan semoga tidak ada masalah teknis. Awalnya mengira doa itu sebatas lewat saja, tapi maa syaa Allah, barulah sadar dengan segala doa yang dilantunkan oleh teman2, ternyata tidak ada kendala teknis sama sekali saat itu, semua berjalan dengan sangat sangat sangat lancar. Tidak ada kendala teknis dan saat mengerjakan pun yaa saya hanya mengerjakan dengan normal, tidak ada kendala berarti. Saya mengerjakan sesuai strategi dan kemampuan. Hingga akhirnya skor pun keluar langsung di aplikasi setelah selesai melakukan tes. Skor saya waktu itu dapat 190. Alhamdulillaahh... lebih gede dari simulasi dan harapan, sangat unexpected walaupun beda tipis heheheh
Tiga hari tes berlangsung, tiga hari peserta LPDP dibuat overthinking. Banyak yang membanding2kan skor dengan gelombang sebelumnya. Jadi tahap ini tuh biasanya main pangkas gaes, ada passign grade, yang ga lulus dipangkas (tapi ada beberapa kasus yang masih lolos karena rekomendasi wawancara katanya mah). Dari situ didapatkan bahwa skor 180 itu adalah passing grade untuk jalur reguler. Panik lah semua orang, alhamdulilah karena skor saya 190. saya tenang2 bae hehehheh. Pokoknya banyak banget lah usaha teman-teman di grup untuk melihat pola, mendata skor, dll. berikut bisa dilihat hasilnya:
💡 Statistik skor LPDP 2021 Tahap 1: https://bit.ly/tbslpdp2021
Passing grade (PG)
- Reguler : 180
- Targeted : 160
- Afirmasi : 100
💡 Statistik skor LPDP 2021 Tahap 2: https://bit.ly/tbslpdp2021tahap2
Passing grade (PG)
- Reguler : 150
- Targeted : 120
- Afirmasi : 90
Setelah pengumuman, alhamdulillah ternyata banyak teman2 yang lulus walau sudah *overthinking* dengan PG 180. Ternyata oh ternyata, PG nya diturunkan di tahap ini, mungkin karena melihat distribusi juga yaa... rata2 banyak di sekitaran 150, jadilah PG 150 (ga ngerti dah saya darimana penilaiannya wkwk). Yaa itu tidak mengubah sedikitpun posisi saya karena saya sudah dapat skor 190. Jadi ya benar, kehidupan saya sangat tenang selama masa penantian pengumuman tahap 2 di atas penderitaan teman2 yang overthinking.
Dengan lulusnya saya di tahap 2 pun, niat saya membuat sebuah media untuk teman2 belajar LPDP akhirnya saya wujudkan dalam bentuk notion ini. Setiap ada kesempatan saya akan menulis di sini dan mengumpulkan banyak sumber untuk belajar.
Kalau boleh dirangkum, tips n trick dari saya adalah:
- Belajar. Tentu harus belajar, ekspek apa nggak belajar. Biasanya saya belajar dari buku2 CPNS sih sama GMAT (karena sekarang lebih banyak adaptasi dari GMAT). Cara belajarnya yaa ngerangkum, poin2 penting dimengerti.
- Banyak-banyak simulasi dengan waktu. Semua soal tuh sebenernya mudah dan bisa aja dijawab, masalahnya ada di time limit. Banyak2 belajar mengerjakan cepat di bawah tekanan waktu. Pelajari tips n trick menjawab jenis2 soal tertentu, sehingga ga memakan waktu banyak.
- Pasang strategi dan target skor yang clear. Karena susah banget kalo mau ngejar perfection dengan time limit terbatas, yaa kecuali kalian emang jago banget gapapa. Tapi mostly pasti kalian dan juga saya adalah manusia2 biasa, remahan risol, maka pinter2 bikin strategi waktu dari target kamu. Selengkapnya bisa dilihat di bagian atas.
- H-1 pakai untuk persiapan, udah gausah belajar lagi. Ini yang biasa bikin kita gelisah mendekati tes. Harusnya H-1 itu kita rileks fokus ke persiapan teknis aja, internet, laptop, dll.. banyak2 istirahat biar ga sakit.
- Banyak2 berdoa dan berserah diri. Ini terutama ketika tes berjalan berhari2, grup pasti ramai dengan overthinking orang2, akhirnya kita ikutan overthinking juga.... Tapi percaya deh, lepaskan semua overthinking itu dalam doa dan serah diri kepada Tuhan. In syaa Allah kalian tenang, yakin Tuhan memberikan yang terbaik kok buat kalian.
Wawancara
Wawancara adalah bagian paling menegangkan dan seru bagi saya. Saya mulai berkenalan dengan banyak orang dan banyak perspektif di sini. Bertemu orang2 hebat dengan minat dan komitmen yang sama, yang membuat saya semakin jatuh cinta dan bertekad untuk bisa diterima di LPDP secara serius. Saya senang bertukar perspektif dan belajar dari orang lain, maka setiap proses belajar di wawancara ini adalah sebuah hiburan bagi saya, saya mengikutinya dengan antusiasme tinggi.
Saking antusiasnya, persiapan wawancara saya lakukan sebulan sebelum jadwal wawancara saya. Sebenarnya jarak waktu antara pengumuman seleksi substansi akademik dan seleksi wawancara ituu tipis banget, cuma seminggu. Jadi bahkan sebelum pengumuman seleksi substansi akademik, saya curi start, mempersiapkan yang terburuk kalau tiba2 saya dapat jadwal awal2. Peserta wawancara biasanya dibuat bergelombang2 sesuai bidangnya dan ternyata alhamdulillah saya dapat jatah tanggal 22-25 November 2021, umumnya bidang ICT memang dapat jadwal akhir2. Beberapa hari kemudian, semingguan lah, keluar jadwal fix dan saya dapat jadwal di hari terakhir banget 25 November 2021 jam 10.00 WIB. Waaw, sepertinya sangat menguntungkan bagi saya, karena semakin akhir, semakin sedikit waktu penantian, semakin sedikit kegilaan yang dirasakan heheheh. Tapi di sisi lain, jujur, insecure banget liat orang2 selama 1 bulan, yg udah wawancara suka ngomongin di grup, katanya susah lah, kacau lah, dll. jadi rasanya kadang kayak “aduh gimana aku nanti”. Dengan daoat jadwal akhir, sebenarnya lebih banyak simulasi wawancara yg kita tonton, di satu sisi bagus sebagai data, di sisi lain yaa tadi... insecure beraaaaattttt.
Oiyaa untuk wawancara ini, sebenarnya sudah ada fasilitas simulasi interview yang disediakan Kakak2 awardee di discord. Jadi semua bisa saling menentukan jadwal simulasi yang dibantu Kakak2 awardee sebagai interviewer. Setiap hari selalu ada yang mock interview di discord. Awal2 saya sangat sering mendengarkan, untuk tahu gambaran interview dan saya sering mencatat jawaban2 yang bagus untuk saya "tiru". Tapi lama2 jadi makin males dengerinnya karena malah bikin makin insecure ahahahah. Intinya kalau lagi ada semangat aja dengerinnya, kalau lagi down jangan dengerin sih, malah makin jadi2 gelisahnya.
Berikut ToDo saya untuk wawancara waktu itu:
Sebulan sebelum wawancara, minggu pertama saya isi dengan menggali ilmu dari orang2 yang bisa saya tanyakan pengalaman wawancara, untuk tahu substansi pertanyaan, suasananya, dsb.. Saya mencari2 awardee dari UI yang juga di bidang DS/AI. Akhirnya bertemua lah dengan banyak Kakak2. Saya banyak mengadakan pertemuan, ngobrol2, ke mereka, bahkan agar lebih bermanfaat, saya juga mengajak teman2 yang lain buat ikutan ngobrol bareng mereka heheh.
Di masa ini juga, saya secara khusus minta bantuan dengan mentor saya untuk menyusun strategi heheh
💡 Salah satu tips untuk mempersiapkan wawancara dari saya adalah mencari vulnerability di CV LPDP untuk di-counter dan mencari outstanding point yang harus kudu wajib banget disampaikan pas wawancara, interviewer harus banget tahu, walau harus disisip2kan dikit2.
Beberapa poin yang saya catat waktu itu:
-
Vulnerability
- Karya Ilmiah kosong
- Diagram di essay tidak ada penjelasannya
- Sangat kuat motivasinya, tapi gimana kalau sampai ga tercapai? Kamu bakal apa?
- Poin pembeda bisa jadi counter,
- dll. lah pokoknya
-
Point oustanding
- Punya koneksi ke peneliti di beberapa lembaga
- Sudah punya LoA
- Bidang studinya fleksibel dan sangat dibutuhkan
- dll. lah pokoknya
Yaa pokoknya ini poin2 penting yang pertama saya notice dibantu dengan mentor pasca kampus saya, sebelum melakukan atau fokus ke pertanyaan2 lain.
Setelah minggu eksplorasi tersebut, minggu berikutnya diisi dengan membuat draft soal-jawaban dan materi2 pendukung wawancara. Materi2 pendukung wawancara yang saya gunakan untuk menunjang argumen studi saya di antaranya:
- Tentang LPDP secara umum, visi misi tujuan logo (sampe menghafal mars nya loh ahahah), dll. —> sempat liat mock interview orang2, banyak yang ditanya soal LPDP
- Stranas KA (pondasi perkembangan data science/artificial intelligence di Indonesia)
- Indonesia Emas 2045 (karena ini yang mau dituju kedepannya)
- SDG (terutama poin 3.4 dan 9.5)
- GII (global innovation index) beberapa negara
- Program2 digital mental health di Australia
- Hubungan bilateral Indo-Aussie
- Syarat pendaftara dosen/peneliti di universitas tertentu, tugas dosen dalam undang-undang (tri dharma perguruan tinggi)
- study plan (matkul, komunitas, pembimbing, biaya, dll.)
Saya gatau sih umumnya memang diperlukan sampai sebanyak itu atau tidak, tapi karena saya prepare the best for the worst, jadi yaudah semuanya saya cari tahu dan hafalkan.
Satu hal yang mungkin berbeda di tahun ini dari tahun2 sebelumnya adalah pembahasan mengenai isu. Katanya sih di tahun2 sebelumnya LPDP itu wawancara suka ada pembahasan tetang isu yang relevan saat itu. Wahh takut sekali saya mendengarnya, sudah siap2 juga daftar pertanyaan dan isu apa yang kira2 ada. Tapi ternyata dengar2 dari teman yang sudah wawancara saat itu, tidak ada pembahasan isu sama sekali. Semua fokus ke studi dan CV kita. Akhirnya pembahasan isu bukan jadi fokus saya saat itu.
Draft soal dan jawaban saya buat dengan mengumpulkan semua daftar pertanyaan yang saya temui. Kurang lebih pertanyaan2nya tentang personal/diri, universitas, LPDP. Dokumennya seperti ini:
https://docs.google.com/document/d/1YJ3tqkMxe6Z2Ul_8er7_PqJsRMTv4FmRdd5TgCBKATw/edit?usp=sharing
Dari semua pertanyaan ini, beberapa pertanyaan krusial, saya buat draft jawabannya. Jadi seperti poin2 yang ingin disampaikan ketika masuk ke dalam pembahasan tertentu. Tidak semua pertanyaan saya jawab, hanya beberapa saja yang kayaknya pasti bakal keluar deh..
Di minggu ini juga, saya mulai melakukan pendekatan ke teman2 baru, mulai mock interview walaupun cuma berani jadi interviewer, pokoknya kita saling judging dan sok tahu lah ahahah. Tapi jujur itu sangat membantu siih, selain suasananya santai, umpan balik juga konstruktif dan ga dicecer2 banget kayak simulasi di discord. Selain itu juga, kita ada sesi ngobrol biasanya, saling melepas khawatir dan berbagi rencana. Yaa pokoknya salah satu dari banyak momen yang saya nikmati selama proses persiapan wawancara. Selain itu, banyak juga mock interview dari teman2 sekelompok saya (saya masuk ke kelompok 23). Belum diketahui secara pasti apa fungsi kelompok dalam seleksi wawancara LPDP ini, tapi ada yang bilang, kalau kelompoknya sama, kemungkinan pewawancaranya pun sama (tapi nggak juga sih, kayaknya itu kombinasi deh, kombinasi kelompok, bidang).Yahh pokoknya ga usah fokus sama kelompok lah.
Di minggu terakhir, saya mencoba untuk fokus mencoba simulasi (agar terbiasa dan lancar) dan fokus ke kebutuhan teknis seperti print dokumen yang mungkin diperlukan, sedia laptop, koneksi, dll.. Saya juga fokus jalan2 biar ga tegang heheh seminggu itu saya jalan2 kayak 3-4 hari. Untuk simulasi, jujur sejujur2nya saya ga berani mock interview di discord, bahkan untuk private room pun tidak ahahhah soalnya menurutku mock nya agak gimana gitu, menakutkan kali ya :"" I know sih, itu karena prepare for the worst, di satu sisi kita melihat banyak kekurangan kita, tapi saya tahu diri saya. Saya yakin dengan cara seperti itu, saya malah down dan bukan up, makanya saya memutuskan untuk tidak ikut mock di discord. Sebagai gantinyaaa, saya mencari Kakak tingkat da kebetulan saya menemukan seorang Kakak tingkat yang gatau kenapa saya nemu random aja di grup ahahah.. Pokoknya saya lagi liat2 grup telegram ICT tiba2 lihat nama Kakak ini, gatau kenapa kok familiar, carilah di linkedin datanya, ternyata anak UI toh... cari informasi dari anak RK, wahh bisa banget nih minta bantuan. SKSD lah saya, meminta bantuan untuk mock. Alhamdulillah Kakaknya bersedia.
Mock interview pertama saya sebagai interviewee sangat membuat deg2an, gatau takut banget ahahahh takut saya tidak sesuai ekspektasi saya sendiri. Simulasi dimulai, terasa lancar dijawab sih sebenernya, tapi ternyata selalu ada umpan balik agar lebih baik. Banyak umpan balik konstruktif dan perspektif yang saya terima dari Kakak tersebut, banyak hal yang saya pelajari, salah satunya adalah teknik untuk membelah big goals ke dalam goals2 kecil (short, middle, long). Sebenarnya *insecure* berat sih setelah mockup, merasa kok kayaknya aku cupu banget, saya masih belum sesuai ekspektasi sendiri. Tapi kemudian saya meminta afirmasi dari Kakaknya "Kak, apakah aku sudah baik" dan Kakaknya menjawab "Sudah kok, cuma pasti selalu ada yang bisa diperbaiki kan". Itu kata2 yang membuat hati saya sangat lega. Dari situ saya perbaiki lagi kekurangan2 dari mock interview.
Pada saat hari H, hal yang pertama kali saya pikirkan adalah "siang ini, habis interview, aku mau makan es krim cokelat matcha", motivasi kuat untuk mengawali hari. Nervous?? Sangat!!!! Selama perjalanan satu bulan itu kepercayaan diri saya naik turun, sangat susah untuk menjaga percaya diri dan saya juga hampir down saat mau wawancara. Apalagi nih melihat bagaimana teman-teman lain sangat keren, prestasinya, motivasinya, destinasi universitasnya (wow top 10), dll.. Tapi satu hal yang bikin tenang di samping tawakkal kepada Allah waktu itu adalah kata-kata seorang Kakak tingkat awardee tahap 1 (hehehe Makasiih Kak) di bawah ini. Pokoknya yakin lah saya waktu itu bismillah, kamu pasti bisa kok, se gak bisa gak bisanya yakin kamu itu berkualitas!
Satu lagi waktu iitu afirmasi dari Kakak tingkat dosenku tercinta. Pas saya cerita kalau saya takut ga diteirma, dia bilang "Loh yaa.. LPDP yang rugi kalo ga nerima kamu". Yakin lulu yakiiinn, kamu pantes kok dapet LPDP. Bismillah...
Saya wawancara pukul 10 WIB tapi harus stand by 2 jam sebelumnya, yaitu 8 WIB. Jam 8 saya sudah stand by, bolak balik ke kamar mandi, sambil mengingat poin2 penting di kepala saya. Setiap 10 menit saya refresh zoom nya. Sampai akhirnya jam 9.50 an kalau tidak salah, saya mulai masuk ruangan. Deg.. deg.. Alhamdulillah kesan pertama baik, karena diawali dengan humor kecil yang ga humor. Menurut saya kayaknya kesan pertama ini penting banget ya, karena membawa suasana hingga selanjutnya. Dari awal, si interviewer ini sudah dengan mantap mengatakan bahwa durasi interview akan berjalan selama 40 menit. Loh kok bisa, mereka udah nentuin dari awal, ga ada yang lebih dalem yang mau digali apa dari saya... ahahah padahal ekspek bakal dicecer, pikir saya.
Baru mengeluarkan pertanyaan2 awal, saya sudah langsung nge-blank dan speechless. Kenapa? Karena pertanyaan2 yang dilontarkan sama sekali tidak sama dengan apapun mock yang pernah saya lihat dan temui. Jauh di luar ekspektasi, hebat banget memang ya.. ketika udah prepare se-prepare2 nya ternyata saya diberikan pertanyaan yang menurut saya unexpected. Biasanya awal2 bakal nanyain tetang diri, studi, dan lain-lain. Tapi ini semua pertanyaan yang dilontarkan benar2 validasi isi CV saya. Sangat2 sedikit pertanyaan tentang studi tentang segala hal yang sudah saya siapkan, gaada, ituuu gaaada yang ditanyain astaghfirullah. Gaada ditanyain kenapa pengen studi, kenapa milih univ X, kenapa ke Australia, kenapa mau jadi dosen/peneliti. Malah ditanyain "Kamu suka matematika ya? Kenapa kamu suka matematika". Karena pertanyaannya tidak saya ekspek, saya pun jawabnya tidak terstruktur :"" walaupun Alhamdulillah semuanya masih bisa saya bawa ke konteks dan tidak sampai ke luar konteks. Alhamdulillah juga di tengah ke abstrakan pertanyaan yang tidak saya ekspek, saya bisa menyisipkan poin2 outstanding yang saya buat, seperti penelitian, bidang studi, alasan2 memilih univ juga saya sempil2kan walau tidak ditanyakan. Interviewer juga terlihat mencatat ketika saya sebutkan poin2 yang memang saya tekankan, berarti poin2 outstanding saya sampai ke mereka.
Satu hal yang saya sangat ingat waktu itu dan memang salah satu poin yang saya sangat ingin sampaikan adalah jawaban *ice breaking* ketika ditanya "Loh kok di Australia". Singkat cerita saya bilang ke interviewer bahwa salah satu kekurangan saya adalah mudah terdistraksi, dengan video switzerland dan kucing di youtube (Jujur banget??? Iyaaa saya jawab pertanyaan2nya sejujur2nya ahahah). Interviewernya ketawa (padahal beneran loh :"").
- Terus mereka nanya "Jadi Lulu senang nonton video Swiss yaa"
- Saya: "Iya, Bu. Karena pemandangan alamnya sangat relaxing dan bagus"
- Ibu interviewer: "Loh kalo gitu kenapa kamu pilihnya ke Australia, ga ke Swiss aja?"
- Saya: (mengeluarkan kata-kata andalan) "Karena saya maunya studi dan Australia untuk digital mental health sudah sangat tepat, Bu. Kalau mau jalan-jalan saya pasti pilihnya Switzerland, sebenarnya enak, Bu dibiayai LPDP buat jalan2. Tapi saya tidak pilih itu, karena menurut saya .... *menjelaskan tentang studi dan Australia*" (Semoga ini ngasih kesan positif hahahah)
Jujur saya udah overthinking pas diwawancara di ruangan, karena banyak jawaban yang ngaco, terutama soal psikolog2an. Tapi ada 1 bagian yang bikin saya lumayan positive thinking, yaitu ketika interviewer menanyakan tentang beasiswa S1 saya. Fyi, S1 saya dibiayai full oleh Computer Science Leaders Scholarship. Ibunya sempat nanya "Kamu cuma pernah dapat beasiswa satu ini aja, gaada yang lain?". Keluarlah kalimat andalan "Iya, Bu. Karena beasiswa ini sudah fully funded, selama 4 tahun, saya tidak perlu memikirkan biaya lain lagi dan fokus kuliah. Selain itu, saya juga sudah terikat kontrak dan memang tidak bisa mendaftar ke beasiswa lain". Lalu ketika ditanya "Kamu apakah ada kontrak dengan beasiswa lama setelah lulus S1? Misal harus kerja di perusahaan mereka atau semacamnya?". Ketika saya jawab tidak, kedua interviewer sama2 memberikan respon "ohh berarti gaada kontrak yaa" sambil tersenyum dan mencatat. Menurut saya itu pertanda bagus, karena bisa jadi mereka ingin mengambil saya, tapi ingin memastikan apakah saya akan terikat kontrak dengan beasiswa lain atau tidak. Tentang beasiswa adalah pertanyaan terakhir.
Ending dari wawancaranya agak awkward, 40 menit saat itu wawancara berlangsung, gaada closing statement, ibunya cuma bilang "kita sudahi wawancaranya", gaada persilahkan keluar. Saya jadi harus bertanya "Maaf, Bu. Apakah ini saya sudah boleh keluar?" dan akhirnya saya keluar tanpa closing statement yang sudah saya rancang dan overthinking kan berminggu2, karena terlalu nervous HHHHHHH Padahal udah bikin closing statement keren gitu :"""
💡 Lesson learned: expect the unexpected
📖 Mungkin kalo bisa dirangkum, proses wawancara saya rekapnya seperti ini
Durasi: 40 menit Pewawancara: 2 orang (tidak diketahui background pewawancara sama sekali) Persentase bahasa:
- Indonesia: 60%
- Inggris: 40%
Persentase jenis pertanyaan:
- Psikologis: 30%
- Teknis (riset): 8%
- Pengalaman (track record dari CV LPDP): 45%
- Rencana studi dan setelahnya: 17%
- Tentang LPDP: 0%
Persentase ketawa: 70% (mayan santai sih wawancaranya) Opening statement (Introduction): No Closing statement: No
Selesai wawancara, bertemu ibu dan abang, saya ceritakan panjang lebar, kekagetan saya dengan pertanyaannya, perasaan saya, isi pertanyaannya. Tiba2 ibu saya mention "Tadi kamu sebut gak sudah dapat LoA??". Seketika perut saya mules, kepala saya muter2, "ohiya, aku kayaknya lupa nyebut". Sudahlah, tidak ada healing terbaik selain beli es krim cokelat matcha.
Seminggu penantian dipenuhi overthinking "KOK AKU GA NYEBUT UDAH PUNYA LOA", padahal itu poin yang sangat penting gitu. Lalu pemikiran tentang pertanyaan lain juga mulai berkembang "loh kok aku ga jawab gini", "kenapa aku ga bilang gini"... aaaahhh sudahlah pokoknya semua pikiran itu dihilangkan dengan tawakkal kepada Allah. Berdoa yang terbaik, karena saya pun selalu berdoa yang terbaik, selalu berdoa jika memang LPDP ini banyak mudharatnya untuk saya, tolong digagalkan saja. Jadi saya sudah benar2 ikhlas. Saya pun yakin, di balik kesulitan tersebut pasti ada hikmah, selalu ada cara Allah untuk merendahkan hati makhluk-Nya, padahal Allah pun menanamkan di batin saya bahwa saya sanggup kok, tapi diterpa berbagai halangan, sehingga kesanggupan saya bukan hanya menjadi kesuksesan belaka tapi peningkatan iman dan taqwa.
Hari2 dilalui dengan doa, setiap gelisah, datang ke kamar ibu minta didoakan. Saya juga membuka cerita pengalaman menyakitkan dengan ibu, cerita tentang dulu ketika ditolak di sekolah impian saya. Tanggal 3 Des pun datang, hari pengumuman. Ternyata ehh ternyata alih2 mendengar pengumuman LPDP, kami malah mendapat pengumuman pengunduran ke tanggal 6 Des, tambah kembali hari2 penuh penantian, dan doa. Alhamdulillah dengan pengunduran pengumuman ini, Allah teryata memberikan kesempatan untuk saya bersilaturahmi ke keluarga besar dan meminta doa dari mereka, dari nenek, dan saudara2. Semuanya support dan bantu berdoa.
Selama menjelang pengumuman, semua keluarga sangat support, lagak2 mereka juga seperti saya sudah akan fix pergi ke Australia. Kakak2 sudah siapkan laptop baru, ibu ayah sudah memikirkan koper, baju batik, tiket pesawat, kapan liburan. Sudah googling2 juga mereka tentang suhu di sana, kapan buka border, dll.. Loh yak, saya yang makin nervous kalo gini :"" sempet overthinking "gimana kalo ga lulus??? Ekspektasi mereka bakalan hancur dooong??". Tapi yaa kemudian paham juga, keluarga bukan beban kok, mereka support system. Kalaupun saya gagal, justru mereka yang bakal support saya sepenuhnya nanti, ekspektasi mereka gaakan hancur, mereka justru yang bakal menerima saya apa adanya. Alhamdulillah, saya mendapat keluarga yang sangat supportif.
Hari yang dinanti tiba, tanggal 6 Des, 1 hari yang sangat lamaaaa... Ketika ditanya ke admin kapan pengumuman, admin LPDP menjawab ditunggu saja sampai 23.59 WIB. Firasat saya ini kenapa mesti nunggu 23.59 apa bakal rilis 23.59 banget ya. Pagi belum diumumkan, siang belum diumumkan, sore belum diumumkan, malam belum diumumkan. Semuanya pun resah, grup ramai, kerjaan numpuk. Dari pagi hingga malam, tidak bosan ibu saya mengecek tempat kerja saya secara berkala untuk bertanya "sudah ada hasilnya?". Bahkan malam hari ketika sudah tidur, ibu bangun setiap satu jam sekali untuk mengecek keadaan saya.
Tak disangka2, ternyata pengumuman diumumkan hampir tengah malam jam 23.11, ketika saya sudah menyerah dan merebahkan diri ke kasur. Seketika notifikasi penuh dengan "udah keluar", "udah pengumuman", "udah". Kagetlah saya... baru juga akan tidur, tadinya berniat membuka pengumuman pagi, biar kalau tidak diterima setidaknya saya bisa tidur nyenyak malam ini. Tapi karena penasaran akhirnya saya beranikan diri membuka websitenya, sambil tutup mata ahahahah. Ini ritual aneh sih, tapi cara saya melihat pengumuman biasanya menutup mata, kemudian intip2 sedikit, baru membuka mata spenuhnya. Saat tutup mata, saya intip sedikit, mencari2 warna tulisan merah, karena katanya kalau gagal, tulisannya warna merah. Saya kaget karena tidak menemukan tulisan warna merah ketika mengintip, saya buka mata sepenuhnya, ternyata saya lolos seleksi wawancara :"" Saat itu saya langsung ke kamar ibu, dan di situ ibu pun belum bisa tidur lagii, ibu langsung bertanya "gimana? lulus?", saya jawab "lulus" sambil memeluk ibu. Ibu bilang "Akhirnya, ibu bisa tidur tenang malam ini".
💡 Berikut passing grade (PG) wawancara jalur Beasiswa LPDP tahun ini:
Tahap 1
- PG Reguler : 900
- PG Targeted : 825
- PG Afirmasi : 750Tahap 2
- PG Targeted : 1070
- PG Reguler : 1170
- PG Afirmasi : 983
Saya pribadi, menghubungi tiket bantuan untuk mengetahui rincian skor saya. Hasilnya adalah:
Alhamdulillah ternyata sangat meleset bung... tipis2 kumis.
Mari rangkum tips n tricks untuk tahap wawancara ini:
- Banyak2 berdoa dan berserah diri. Ini karena prosesnya yang paling lama di antara yang lain. Kalau setiap harinya kalian penuh overthinking, wahh bisa mental breakdown banget. Jadi udah hilangkan overthinkingnya dengan berdoa dan berserah diri ke Tuhan. Minta doa juga ke orang tua dan yang lainnya, karena waawancara ini tahap akhir banget buat kalian jadi calon penerima beasiswa.. tahap akhir pasti harapannya lebih tinggi kan...
- Lakukan setidaknya satu kali simulasi serius sama yang berpengalaman. Ini buat kalian tau rasanya gimana sih berada under pressure di interview nanti. Dan dengan interview oleh yang berpengalaman, kalian bisa rasain nihh... jenis2 pertanyaannya gimana sih.
- Cari temen banyak-banyak (?), baik yang sudah jadi awardee maupun temen seperjuangan. Ini ga mandatory sih, tapi semakin banyak teman, semakin kalian terbuka dengan pemikiran mereka. Kalau perlu ajak2in aja simulasi kecil2an dan sok tahu gitu. Kalian nanti bisa lihat perspektif yang mungkin kita tidak pernah pikirkan sebelumnya dari mereka. Perspektif itu bisa banget menunjang kalian ketika wawancara nanti.
- Banyak-banyak merefleksikan diri. Kalian akan berhadapan dengan seorang psikolog, yang katanya mungkin bisa baca pikiran kalian (wkwkwk ga kok bercanda). Psikolog ini pasti ahli ya.. bisa lihat mana poin2 yang bagus dari kalian mana yang nggak, kapan kalian mungkin make things out instead of reflecting things out of yourself. Jadi bener2 refleksikan diri, kenali diri kalian, motivasi, strengths, weakness, skills, gaps, dll., jangan terlalu dibuat-buat, karena pasti keliatan kok!
- Cari bahan sebanyak2nya dan selengkap2nya, informasi yang menunjang rencana kalian studi kedepannya. Informasi bisa tentang universitasnya, negaranya, iklimnya, dll.. Kalo kata Bu Ratna nih, kalian gabisa klaim kalau kalian siap dan cinta akan sesuatu kalo kalian sendiri belum kenal. Mau ke univ X tapi gatau ada apa aja di univ X??? Ga bagus!!0 Kalaupun hal2 ini ga ditanyain pas wawancara nih, informasi ini membantu kalian banget buat menunjang kontribusi kalian kedepannya, demi kebaikan sendiri.
- Bikin list of vulnerabilities dan weaknesses dari diri kalian dan aplikasi LPDP untuk dipelajari cara meng-counter nya.
- Bikin list of outstanding points, yang kudu wajib banget nih disampaikan ketika wawancara. Pastikan outstanding points itu memang sesuatu yang mencerminkan kelebihan dan akan membantu studi dan kontribusi kedepannya. Dan outstanding points ini perlu dipasang strateginya, kapan harus disampaikan. Misal, poin "sudah punya LoA" bisa disampaikan ketika ditanya rencana kuliah, persiapan kuliah, dll..
- Buat draft pertanyaan dan jawaban. Ini bukan berarti harus menghafal jawaban yaaa... karena menurut saya, untuk wawancara justru lebih bagus kalau tidak dihafal dan sesuatu itu keluar natural dari diri kita. Tohh ada psikolog juga, bakal keliatan banget kalo jawaban kita hasil menghafal. Draft ini lebih ke arah membantu kita untuk ga miss dan lebih siap ketika menjawab pertanyaan tertentu, ga perlu pake mikir lagi. Draft jawaban pun ga perlu dibuat paragraf, cukup poin2 yang ingin disampaikan, sisanya biarkan keluar secara natural.
- Expect the unexpected. Ini satu hal yang saya terlewat, bahwa saya saking prepare nya terhadap sesuatu, jadi kaku. Saya tidak expect the unexpected, ketika dapat yang unexpected, jadi tidak lancar.













Comments
Post a Comment