Fast Pass Ramadhan
Ramadhan comes in a rush. I was halfway through Ramadhan when I started writing this, but my headspace was above the clouds. Now the end of Ramdhan is one blink away, so has it been like since the beginning. I blink, and now we're in the last 10 days of Ramadhan.
Maha Suci Allah yang telah menyampaikan saya pada Ramadhan tahun ini dalam keadaan sehat dan dapat berkumpul bersama dengan keluarga. Setelah dua tahun menjalani puasa Ramadhan penuh perjuangan di negeri orang, akhirnya kembali merasakan Ramadhan di negara mayoritas muslim. Sementara ini menjadi hal yang baik, saya merasa kewalahan dengan proses adaptasinya, sehingga Ramadhan terasa berlalu begitu saja di depan mata.
Jujur, Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan paling ugal-ugalan yang pernah saya lalui dalam 6 tahun terakhir. Di tahun-tahun sebelumnya sejak 2018, semua terdokumentasi dengan baik di blog ini bagaimana saya selalu mempersiapkan banyak hal sebelum Ramadhan, mulai dari journaling hingga mengkondisikan diri dalam komunitas2 yang baik. Dan tentu, sudah menjadi ritual bagi saya untuk menulis di blog ketika Ramadhan datang.
Akan tetapi di Ramadhan tahun ini, saya memulainya belum baik. Dimulai dari kesibukan di begitu banyak kegiatan, belum lagi adaptasi di berbagai lingkungan, dan bersilaturahmi ke sana sini. Bahkan untuk menulis di blog saja baru sempat dilakukan di 10 malam terakhir ini. Awalnya banyak yang saya sesali dan sesekali merasa harusnya bisa "beribadah" lebih banyak.
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (maksudnya: takdir dalam setahun, -pen).” (QS. Ad Dukhon: 4)
Dari dulu saya memegang prinsip bahwa kehidupan saya selama satu tahun ke depan ditentukan dengan bagaimana saya menjalani Ramadhan di tahun ini. Sejalan dengan konsep bahwa di malam laylatul qadr adalah waktu pencatatan takdir. Semakin sulit ujiannya, semakin berat perjuangannya, maka ada hikmah lebih besar yang akan saya jalani satu tahun ke depan. Sejujurnya ada rasa khawatir di hati ketika Ramadhan ini belum bisa dijalani dengan baik, bagaimana nasib saya satu tahun ke depan?
Akan tetapi, setelah dipikir2 dan didiskusikan mungkin di situ lah letak istimewanya Ramadhan tahun ini ya... katanya sih mungkin sebuah bentuk "level up". Kalau di Ramadhan tahun2 sebelumnya sebuah cliche, siap2, datang, pergi. Ketika rutinitas tersebut sudah biasa, maka bisa jadi lama2 mati rasa. Maka perlu berugal-ugalan untuk akselerasi hati di Ramadhan tahun ini. Dan pun, segala kegiatan yang saya lalui in syaa Allah lillah, semua adalah hal baik, semoga Allah ridhai. Maka kenapa saya menyesali dan takut ibadah saya berkurang padahal kegiatan2 saya pun diniatkan karena Allah, semoga Allah hitung sebagai ibadah pula hanya dengan bentuk yang berbeda.
Hari ini, sebuah ilustrasi dan quotes menyentuh hati saya seakan2 merasa authornya somehow bisa membaca pikiran. Tapi nampaknya masalah yang saya alami memang bukan hal yang unik.
Seketika teringat: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)
Fear not, amalan adalah tergantung pada akhirnya, adalah sebuah kalimat yang menenangkan hati saya. Maka bagi saya 10 malam terakhir memiliki makna yang besar selain laylatul qadr, yaitu menggiatkan ibadah untuk mengakhiri Ramadhan ini dengan yang terbaik. Bismillah... mari kita kejar. Taqabbalallah
Tentu, catatan penting bagi saya adalah Ramadhan berikutnya harus lebih baik, in syaa Allah. Teringat kata2 ustadz di Tarhib Ramadhan lalu, bahwa para salaf mempersiapkan Ramadhan 6 bulan sebelum kedatangannya. Maka rabi'ul awal nanti kita mulai siapkan hati dan diri menyambut Ramadhan yaa!

Comments
Post a Comment