Krisis Identitas Seorang Wanita

 Menjadi seorang wanita bukanlah perjalanan yang mudah. Banyak yang bilang begitu tentu, tapi bagi saya bukan karena banyaknya beban yang harus ditanggungnya dibanding pria, saya rasa keduanya sama saja. Tapi bagi saya, yang berat adalah bagaimana dinamika identitas selalu berubah bagi seorang wanita.

Seorang wanita, sedari kecil adalah anak dari orang tuanya. Dibesarkan ayah ibunya, dia belajar untuk patuh tapi kritis, lembut tapi tegar, perhatian tapi tidak ke sembarang orang. Di bawah naungan ayah ibunya, dia merasa aman dan nyaman selama bertahun-tahun. Dia diratukan. Dia membangun identitas sebagai seorang anak. 

Kemudian dia belajar, dia meniti karir, dia membangun nama dari karir dan prestasinya. Semua orang mengenalnya karena kegigihannya, karena kecerdasannya, dan ada juga yang mengenalnya karena kelembutannya. Setiap orang mengenal dia dengan identitas baru, yg melekat pada perjalanan karirnya.

Kemudian dia menikah, tempatnya merasa aman dan nyaman berpindah ke orang yang paling2 kurang dari satu tahun dia kenal. Tempatnya dididik, dari seorang anak perempuan menjadi wanita juga berpindah. Dia juga mungkin berpindah budaya, berpindah pekerjaan. Pada orang yang tepat, semoga dia tetap diratukan. Identitasnya berubah menjadi seorang istri.

Kemudian dia memiliki anak, dunianya juga berpindah dan berubah. Yang pada awalnya dia didik, kini dia menjadi seorang pendidik. Apa yang telah ia pelajari di masa hidup, inilah masanya mengamalkan apa yg telah ia pelajari dengan maksimal. Dia dilekatkan dengan identitas baru, seorang ibu. Bukan identitas biasa, tapi identitas yang Allah telah muliakan.

Untungnya, Allah berikan jalan untuk wanita, pada identitas apapun dia tetap mulia, jalannya menuju surga sederhana. Seorang wanita terkadang harus memilih identitasnya, terkadang ada yg bisa melakukan dua atau tiga. Seorang wanita harus pintar untuk mengatur identitasnya.

Saya rasa, menjadi wanita adalah sebuah framework tapi bukan metodologi. Identitas yg wanita pilih adalah metodologi. Apapun identitas yg diambil, harus melekat kuat pada Allah sebagai tujuan dan rumusan.

Yang saya takutkan adalah, jika saya melekatkan identitas saya pada hal yang fana, hal yang duniawi. Bisa jadi saya melekatkannya pada pendidikan, karir, makhluk, atau harta. Ketika Allah cabut identitas tersebut, saya akan kehilangan arah dan merasa hampa.

Yaa muqallibal qulub, tsabbits qalbii 'alaa diinik..

Maka yaAllah tolong teguhkan hati saya pada identitas yg engkau ridhai, jauhkan identitas2 fana. Jika memang kehilangan identitas duniawi membuat saya sedih, maka gantikan dengan yg berkali lipat lebih baik di akhirat-Mu, ya Rabb. Aamiin.

Comments

Popular Posts