Gaming
Belakangan ini, saya dan suami saling bercerita tentang rutinitas kami di masa kecil. Banyak sekali ternyata yang dibahas, mulai dari kegiatan sehari-hari, game terfavorit, teman masa kecil, dan lain-lain. Tapi kami berada dalam satu highlight yang sama saat itu, karena kami sama-sama suka bermain game sedari kecil!
Heheheh mengingat kembali, saya dan suami pernah membicarakan tentang game jauh sebelum kami menikah, tepatnya ketika kami kuliah. Saya tidak begitu ingat percakapannya di masa kuliah dulu, tapi kami membicarakan tentang Digimon. Sejujurnya saya sendiri tidak ingat sama sekali, karena itu mungkin 1 dari 3 occasion percakapan saya dan suami dulu, yang mana itu SANGAT MINIM. Alhamdulillah suami masih inget, jadi hanya berdasarkan memori suami saja heheh.
But it was so surprising! That time of conversation about Digimon, telah menggiring suami untuk mengingat saya bahkan setelah bertahun-tahun tidak berinteraksi setelah pandemi, hingga akhirnya menikah. Nampaknya itu adalah sebuah kesan yang menakjubkan. But it does make sense tho, mengingat minimnya perempuan bermain game, apalagi Digimon, mungkin jadi lebih mudah diingat heheh.
Ternyata bicara tentang game masa lalu, membawa banyak nostalgia bagi kami! Bukan hanya karena kami memainkan beberapa game yang sama, namun karena kami mulai merefleksikan juga tentang bagaimana masa lalu tentang game ini membentuk pribadi kami yang saat ini.
Bagi saya, bermain game di laptop/komputer adalah salah satu pengaruh besar yang membawa saya pada saya yang saat ini. Dari bermain game, saya ternyata bisa mendapat benang merah dengan suami. Dari bermain game, saya akhirnya familiar dengan komputer, hingga akhirnya mengambil ilmu komputer. Dari bermain game, saya belajar bahasa inggris. Dari bermain game, saya belajar meregulasi rutinitas, ambisi, dan emosi.
Di rasa2 jika dibuat sebuah makalah tentang dampak positif game terhadap diri saya, maka mungkin akan lebih tebal dari skripsi saya (skripsi saya cuma 90an halaman sih). Faktanya saya pernah membuat makalah ini pada saat SMA, ntah ilham dari mana. Namun, tidak bisa dipungkiri, ada beberapa dampak negatif yang juga saya rasakan dari bermain game. Tapi, ini membawa saya untuk bercerita bahwa game itu tidak buruk sama sekali!
ALGORITMA DAN LOGIKA DARI CHIPS CHALLENGE
Pada umur 3 tahun, saya sudah dikenalkan dengan laptop. Bersamaan dengan laptop muncullah game. Saya ingat di masa itu, laptop dengan OS Windows 95 punya sebuah game. Saya mendeskripsikannya sebagai "game yang kita ambil sepatu, terus kunci, terus chip2, ada panah2nya gitu loh", dan ternyata saya baru tahu nama gamenya (maklum umur 3 tahun mana bisa baca). Yaitu adalah "Chip's Challenge".
Coding pada anak2 akan fokus tentang bagaimana memecahkan masalah melalui kumpulan instruksi yang dapat disusun. Atau dengan kata lain adalah bagaimana cara merancang sebuah algoritma. Pergi ke kiri, pergi ke kanan, ambil kunci, buka pintu, itu adalah kumpulan instruksi atau command. Kemudian dengan berbagai cara, instruksi tersebut di susun sedemikian rupa sehingga dapat memecahkan masalah atau meraih goal dari game tersebut.
Dulu saya minder melihat bagaimaan anak2 jaman sekarang sudah belajar coding sejak kecil, ternyata kalau diingat2 saya pun juga sudah belajar yang serupa sedari kecil heheh. Ini adalah bagian yang saya syukuri dapat mengenal game sedari dulu.
MENGHAFAL, MENGHITUNG, DAN BAHASA INGGRIS
Sejak umur 6 tahun, saya mengenal Pokemon. Di umur tersebut, saya ingat memainkan Pokemon crystal gen 2 di GameBoy. Salah satu poin penting yang saya ambil dari Pokemon bahkan hingga saat ini adalah MENGHAFAL. Saya menghafal lebih banyak nama pokemon dibandingkan unsur tabel kimia T,T. Dengan tampilannya yang menarik, saya belajar nama, membaca, berkreasi (karena nama2 pokemon yang unik), dan bahkan belajar metamorfosis melalui evolusi pokemon.
EMOSI DAN SOSIAL
Sebagai contoh, game yang sama tadi, Harvest Moon, mengajarkan bagaimana berkehidupan sehari2 sebagai seorang petani. Di dalamnya ada banyak interaksi antar pemain dan NPC. Seringkali interaksi yang terjadi membuat saya menangkap pola emosi dan behaviour di kehidupan nyata. Terutama ketika hidup di negara berbeda dr negara latar game tersebut, saya belajar juga pola interaksi budaya dari latar di game tersebut, termasuk di dalamnya terkait agama.
Dengan adanya game online, saya juga berinteraksi banyak dengan pemain lain dari berbagai belahan dunia. Saya ingat punya teman online dari Romania, Jepang, bahkan ada yang dari Palestina dulu. Saya berinteraksi dengan Bahasa Inggris yang tentu mengasah lebih lanjut kemampuan berbahasa saya.
_________________________________________________________________________
Ada LEBIH BANYAK LAGI yang saya dapatkan dari bermain game selama 2 dekade ini. Sejujurnya mengutarakan semua ini membuat saya senang! Saya sendiri sudah pasif dalam bermain game sejak perkuliahan, tapi saya masih menikmati sedikit banyak permainan2 kecil, dan masih merasakan dampak positifnya hingga saat ini!
Work hard! Play hard!
Comments
Post a Comment