Refleksi Manajemen Waktu

 Ingat sekali di masa perkuliahan dulu, saya seringkali membahas terkait dengan manajemen waktu dan manajemen diri. Tentunya bukan karena saya ahli dalam hal tersebut, tapi saya mendapat rumusan yang dapat diterima banyak orang terkait dengan manajemen waktu tersebut.

Ketika berbicara manajemen waktu dulu, contohnya pada slide ini, poin yang saya sering tekankan biasanya adalah


Translate: "Kenapa orang-orang selalu gagal dalam mengelola waktunya? Jawabannya sederhana: orang-orang cenderung fokus pada waktu, dan sedikit pada dirinya (mengelola diri). Dan tanpa sadar, mereka akhirnya melakukan hal yang tidak tepat pada waktu yang tidak tepat"

Tidak ada yang berubah pada prinsip saya tersebut. Saya masih merasa, porsi terbesar pada pengelolaan waktu, bukanlah pada mengelola waktu itu sendiri, tapi adalah pada mengelola diri. Saya yakin untuk bersahabat dengan waktu, kita harus tahu dulu tanggung jawab dan hak kita akan waktu. Pada masa tersebut, saya banyak fokus pada mengelola diri, terutama ketika bicara pada diri adalah tentang mengelola iman kita. Membangun pondasi yang kuat sebelum bisa bersahabat dengan waktu, tapi tidak menggenggamnya, karena saya yakin prinsipnya adalah "kita tidak bisa mengontrol waktu".

Walaupun pengelolaan diri saya belum sempurna, belakangan ini, saya lebih mengobservasi terkait pengelolaan waktu. Walau dulu saya mendapat bagaimana teorinya akan pengelolaan waktu, tapi saya baru mendapatkan feeling-nya saat ini.

Pengelolaan waktu memiliki titik berat pada scheduling, yang terbagi pada dua aspek (menurut saya) yaitu rutinitas dan time-blocking. Aspek time-blocking ada pada trik dan pengelolaan task, atau bisa dianggap sebagai kemampuan membentuk framework atau kerangka dan perencanaan. Rutinitas memiliki penekanan bagaimana realisasi dari time-blocking tersebut dilakukan secara terus menerus. Tentu ini adalah definisi dari saya pribadi dan tidak tervalidasi.

Mengapa scheduling mengandung aspek time-blocking?
Saya rasa ini cukup intuitif, time-blocking  mungkin bisa dianggap sebagai jenis yang spesifik dari scheduling. Time-blocking sendiri adalah scheduling , namun dengan disiplin yang fokus, spesifik, dan terstruktur. Time-blocking, lebih dari sekedar scheduling, akan memastikan kita mindful terhadap waktu. Walaupun pada praktisnya, terkadang memang dibutuhkan sesuatu yang lebih fleksibel dibandingkan dengan framework asli dari time-blocking.

Mengapa scheduling mengandung aspek rutinitas?
Saya mendapati intuisi ini ketika sehari-hari telah melakukan hal yang sama terus menerus. Menurut saya, salah satu kunci dalam pengelolaan waktu adalah melakukan sesuatu dengan rutin, kenapa? Semakin sering melakukan sesuatu, maka akan sedikit waktu yang dibutuhkan untuk melakukan hal yang sama terus menerus. Hal ini dikarenakan manusia belajar dan berlatih. Semakin sering kita melihat data/rutinitas, kita mulai membentuk pola/trik, mungkin lama-lama akan menjadi auto pilot atau muscle memory. Maka efisiensi akan meningkat dengan mengurangi waktu belajar, waktu mengakses informasi, waktu berpikir, dll..

Mungkin analogi yang tergambar bagi saya adalah sebuah cache. Semakin sering suatu task atau proses dieksekusi di komputer, data dan instruksi yang dibutuhkan untuk eksekusi tersebut lebih mungkin dialokasikan di cache. Cache yang memiliki kedekatan dengan CPU, akan membuat pemrosesan berjalan jauh lebih cepat dibandingkan mengakses melalui memori.

Satu poin yang saya pernah lihat di Instastory teman adalah: cara paling bagus untuk bisa rutin membaca al-ma'tsurat adalah dengan menghafalnya. Somehow, beberapa orang hafal karena terbiasa. Dengan hafalan tersebut, kita bisa melantunkan dzikirnya tanpa harus melihat HP, kertas. Terkadang bisa sambil di jalan, tapi tentunya akan lebih bagus jika dilakukan dengan kesadaran penuh.

Lalu berhari2 saya memasuki rutinitas dalam rumah tangga. Pada awalnya, sangat sulit untuk mengelola pekerjaan, berputar antara rumah dan tempat kerja pun sangat overwhelming. Pekerjaan seperti mencuci piring, memasak, menyapu, dll. sudah menguras banyak kapasitas otak dan waktu dari mengerjakan pekerjaan kantor. Namun dalam satu titik di perjalanan tersebut, saya menyadari bahwa semakin lama, semuanya semakin auto pilot dan lebih cepat. Saya tidak lagi membutuhkan waktu utk berpikir habis ini ngapain, atau berpikir ke kampus dulu atau bersih2 rumah dulu, atau memikirkan kapan harus menyelipkan belajar materi di tengah bersih2 rumah. Lama2 semua berjalan intuitif mengikuti insting. Pada akhirnya saya punya waktu kosong, seperti menulis blog ini. Alhamdulillah...

Saya bersyukur sebagai seorang muslim. Islam adalah sebuah panduan yang lengkap, sehingga tidak luput dari hal terpenting, yaitu waktu. Di dalamnya, telah terangkum banyak metode, banyak medium untuk menghargai waktu. Salah satunya adalah melalui rutinitas beribadah. Terbayang bagaimana kita diajarkan untuk menghargai waktu melalui serangkaian ibadah. Mulai dari shalat 5 waktu, kapan waktu untuk berdzikir, kapan untuk menuntut ilmu yang terbaik, dll.. Takjubnya adalah bahwa scheduling dalam islam tidak terbatas pada pengelolaan waktu harian, tapi juga pada skala lebih besar. Kita dianjurkan untuk memperhatikan jadwal dalam setiap bulan dan tahun pula. Seperti kapan Bulan Ramadhan tiba, kapan musim haji, Muharram dll.. Di mana di setiap bulannya ada ibadah khusus yang dapat difokuskan.

Prinsip yang hebat juga dalam islam adalah bahwa yang kita kejar bukanlah waktu, tapi keberkahan waktunya. Ketika setiap orang diberikan waktu yang sama, 24 jam dalam sehari, 7 hari seminggu, 52 minggu setahun, dll., maka yang menentukan kualitasnya adalah keberkahan waktu tersebut. Untuk apa waktu tersebut kita gunakan dll.. Sehingga konsep time-blocking dan scheduling sangat penting diperhatikan untuk menyusun amalan2 utama kita dalam kehidupan sehari-hari.

Tentunya rumusan tidak luput dari keliru dan khilaf manusia. Tetap satu quotes teman saya adalah yang selalu terngiang2 di kepala saya,

"Ketika waktu terasa sempit, kenapa ga minta dengan yang Maha Memiliki Waktu saja?"

Semoga Allah berikan kita kemampuan untuk bisa memaksimalkan waktu kita untuk mencari ridha-Nya. Aamiin allahumma aamiin

Comments

Popular Posts