Sstt... Diam adalah emas
Tahun 2025, saya punya sebuah (atau mungkin beberapa) resolusi yang saya mulai refleksikan dengan serius, yaitu "diam".
Diam. Saya rasa menjadi diam itu keren, dalam banyak aspek. Tapi, diam yang saya maksud bukanlah diam kikuk atau antisosial, bukan pula diam ketika orang lain mengajak bicara, atau diam ketika dibutuhkan, atau diam tanpa mengemukakan/menulis pendapat. Tentu tidak karena saya pun masih senang mengemukakan pendapat di blog ini. Diam yang saya maksud adalah memberikan jeda pada impulse.
Banyak impulse terlalu berisik di kepala saya dan mereka menuntut respon. Terkadang respon otak saya keluar dalam bentuk ucapan, baik tekstual maupun audio. Mungkin itu juga alasan saya suka menulis, yaitu bagian dari merespon impulse yang ada. Mungkin itu juga bagian dari kepribadian saya yang cukup talkative.
Menjadi talkative, menurut saya sebagian besar adalah bagian yang positif dari saya. Menjadi talkative telah membangun aspek sosial yang banyak berpengaruh pada aspek kehidupan lainnya seperti karir, teman, akademis, bahkan percintaan. Menjadi talkative juga membangun citra dan kepribadian saya saat ini. Menjadi talkative telah memberi warna pada otak saya saat ini, begitu juga dia memberi warna pada blog ini. For the most part, I like it.
Akan tetapi, menjadi talkative juga saya rasa memiliki sisi menggeramkan. Kepribadian yang dibentuk oleh sifat talkative, menuntut saya untuk selalu berbicara dan menjadikan "jeda" sebagai sebuah kekurangan. Tidak jarang, saya merespon sesuatu tanpa berpikir karena tuntutan ini. Semisal ada sebuah pertanyaan yang saya tidak yakin jawabannya, saya selalu memiliki dorongan untuk menjawab dengan "asbun" (asal bunyi). Atau ketika ada sebuah impulse untuk membagikan suatu informasi, saya dengan gegabah langsung melakukannya. Hal ini termasuk yang saya refleksikan pada akhir tahun 2024 lalu.
Satu bagian yang saya refleksikan adalah bagaimana belakangan waktu itu saya sangat sering membagikan keseharian saya di sosial media. Mungkin seharusnya hal tersebut adalah hal normal ya. Tapi sebuah urge emerge, yaitu adalah urge untuk memiliki citra yang baik di sosial media, atau membagikan sebuah citra ideal yang saya bayangkan. To some extent, ada sebuah gejolak emosi di mana saya mulai meragukan kata-kata ini memang keluar dari diri saya sebenarnya atau hanya sebuah citra. Sampai akhirnya saya menemui sebuah postingan di Instagram yang kurang lebih pesannya "Orang yang tidak bisa 'diam' maka akan berpotensi besar untuk munafik".
Kemudian di hari berikutnya pun saya menemui sebuah postingan lain tentang "Jangna Terlalu Banyak Bicara", kali ini tentang sebuah filosofi dalam buku Principles of Power. "Saya belajar bahwa kita sebenarnya jauh lebih kuat ketika kita tidak terlalu banyak bicara." kata Andy Warhol. Tentu postingan tersebut sangat ekstrim dan tidak semestinya ditangkap dengan keras, tapi bagi saya mungkin itu menjadi sebuah "peringatan". Mungkin memang... Diam itu Emas. Maka saat ini saya ingin belajar diam.
Saya mulai dengan uninstal Instagram, karena saya merasa itu sumber "noise" saya saat ini. Saya juga mengingat masa-masa ketika kuliah S1 dulu, di mana saya tidak punya handphone. Instagram sulit dibuka, WA sulit diakses, dan lain-lain. Saya merasa itu momen2 yang cukup pressure-free heheheh saya jadi terinspirasi untuk kembali ke kehidupan tersebut. Jadi meng-uninstal instagram, saya merasa sangat membahagiakan.
Kemudian, saya berupaya untuk berpikir sebelum bicara, lebih banyak jeda ketika ingin menjawab. Saya ingin banyak2 membaca buku dan menambah wawasan, karena dengan menambah ilmu, kita akan merasa lebih bodoh.
Bismillah... semoga resolusi ini tercapai
Comments
Post a Comment