Banyak Bicara = Racun Hati
Catatan dari kajian Ust. Oemar Mita mix Ust. Adi Hidayat
Musibah terbesar bagi manusia adalah matinya hati sebelum matinya fisik. Hati adalah organ tubuh yang paling cepat lelah dan kotor. Untuk menyembuhkan hati maka analoginya sama dengan menyembuhkan fisik. Ketika fisik sakit, ke dokter, pasti disuruh istirahat. Begitu juga hati, hati juga butuh istirahat. Istirahatnya hati itu menjauh dari hal-hal dunia yang melelahkan. Hal-hal duniawi itu bikin hati cepat lelah. Ketika kita melihat godaan duniawi, hati ini pasti cepat bergejolak bahkan berubah2.
Hotel bintang lima ketika mengistirahatkan hati: tempat ilmu, bertemu orang shalih, bersama dengan Al-Quran. Tapi usaha kita untuk menjaga hati tidak bisa maksimal kalau tidak menghindari hal2 yang meracuni hati kita. Bukan cuma istirahat, tapi menghindari sumbernya.
Segala hal dalam racun hati ini sebenarnya halal dilakukan, tapi jika dilakukan berlebihan, maka akan jadi racun bagi hati.
Q.S. Ali Imran: 147, Tidak lain ucapan mereka kecuali doa, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”
Racun hati itu ada 4, salah satunya adalah banyak bicara:
1. Banyak bicara
"Tidak ada perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, kecuali lubang mulutnya dan lubang kemaluannya."
Kehidupan surga dan neraka sangat tergantung dengan apa yang dibicarakan. Bahkan erangan pun termasuk perkataan yang akan dihisab. Berteman dengan orang-orang shalih itu menjaga pembicaraan. Orang2 yang suka membicarakan kesia2an, pasti ditongkrongannya juga pembicaraannya akan sia2. Orang2 yang suka ghibah, ditongkrongannya juga pembicaraannya menggibah. Makanya penting untuk pilih2 teman nongkrong.
Perempuan itu paling bahaya berucap. Bisa jadi seorang perempuan berucap: "Kenapa kamu jadi laki2 tidak ada kebaikannya" (ini mengingkari kebaikan dari suami)
Kalau mau nikah, belajar apa? Belajar banyak diam.
Kita perlu sesekali banyak diam dan mengaktivasi telinga kita. Dengan banyak bicara kita tidak bisa mendengar, menyerap, tidak bisa bertadabur. Mulut dan jempol sama, tulisan skrg menggantikan lisan.
Barang siapa yang banyak bicara, banyak salahnya, banyak dosanya, maka neraka lebih berhak. Diam di sini adalah untuk menarik pahala yang besar. Diam, tapi mengharap keberkahan dari Allah. Makanya dalam hadits ditulis "qul khairan auliyashmut" bukan "qul khairan auliyaskut" (uskut itu diam yang bahasa sundanya mah "cicing maneh")
2. Banyak Makan
3. Banyak Memandang
4. Banyak Bergaul
Comments
Post a Comment