Influencer
Saya sangat resah dengan influencer makanan di media sosial belakangan ini. Bukan karena kualitas kontennya yang tidak bagus, atau karena makanannya yang tidak enak. Tapi yang membuat resah adalah arah dari konten yang dibuat untuk influence masyarakat saat ini.
Dewasa ini, banyak orang beralih profesi menjadi influencer, bahkan influencer juga menjadi side job pilihan banyak orang. Banyak orang berlomba-lomba bikin konten tentang hal yang disukainya, mulai dari menggambar, bisnis, makanan, bahkan alam. Sebenarnya dunia cyber yang saat ini sangat menakjubkan. Banyak hal yang bisa kita pelajari bahkan lebih menarik dari buku pelajaran saat dulu kita sekolah.
Contohnya, belakangan ini saya menjumpai video-video penelitian tentang sesar. Beberapa peneliti melakukan ekspedisi ke titik-titik sesar di sekitar Jabodetabek. Terkejutnya saya ketika fenomena alam ini ternyata ada di dekat rumah saya, dekat sungai ciliwung di Depok. Sebagai pecinta landscape alam, mendengarnya begitu menakjubkan. Ditambah lagi penyampaian para peneliti yang begitu singkat jelas padat melalui video yang tidak lebih dari 2 menit itu. Saya merasa belajar lebih banyak dibandingkan selama 3 tahun di SMP dulu. Kemudian terpikir, harusnya pembelajaran bisa lebih interaktif kalau begini adanya.
Dan memang benar, setiap hari kita belajar hal baru di media sosial, terkadang disebut sebagai microlearning. Saya bersyukur dengan adanya media ini, pengetahuan kita tentang berbagai bidang jadi lebih luas. Tak terkecuali tentang makanan.
Saya suka memasak dan makan. Saya belajar banyak resep baru dan tempat makan baru yang enak melalui media sosial. Saya mengikuti beberapa influencer makanan.
Sebenarnya saya sudah sejak lama menikmati media sosial untuk belajar tentang makanan. Saya adalah penonton setia Mark Wiens, seorang influencer makanan degnan slogannya yang khas "I travel for food". Banyak hal yang saya suka dari kontennya beliau. Mulai dari makanan-makanan enak, kuliner dari berbagai negara, sampai akulturasi budaya. Konten-kontennya sangat menghibur. Dan perilaku beliau kalau lagi travel itu sangat ramah, sangat enak ditonton.
Baru-baru ini muncul lebih banyak lagi influencer makanan di media sosial, ada yang membahas restoran-restoran viral, atau resep-resep makanan. Pada awalnya saya sangat menikmati konten mereka, save video ini, save video itu. Tapi lama-lama ada yang janggal.
Pertama, menjamurnya banyak influencer makanan membuat kita sulit membedakan mana influencer dengan selera yang sama dengan kita. Sering kali, influencernya bilang ini enak itu enak, harus coba dll.. Tapi sering kali juga ketika dicoba sendiri, ternyata tidak sesuai selera. Sulit sekali memilah mana influencer yang tepat.
Kedua, maraknya bisnis influencer, menjadikan influencer jaman sekarang, sedikit2 dibilang enak, pokoknya wajib kudu coba, dll.. Motif finansial sering mengaburkan rasa. Mungkin karena saya tipe-tipe gourmet yaaa.. saya makan di luar atau restoran akan expect masakannya enak-enak banget, lebih enak dari masakan sendiri gitu. Tp sering kecewa karena ternyata ga seenak yang diagung2kan influencer itu. Zonk deh pokoknya. I feel like people should value taste more, or maybe I am the wrong audience for them (?).
Ketiga, influencer makanan bisa merubah pola hidup masyarakat jadi kurang baik. Ini seringkali saya lihat influencer makanan yang setiap harinya posting restoran, saya agak heran ekspektasinya audiensnya jajan terus atau gmn. Sejujurnya saya merasa budaya memviralkan restoran ini tidak baik untuk pola hidup masyarakat. Mulai dari makanan viral tidak terjamin sehatnya, orang-orang Fomo, antri gila2an, boros waktu dan finansial jugak. Of course, we know kendali adalah di kita. Tapi kan namanya juga influencer makanan, that's what they do, influence you to eat the same exact things they promote to you. Bohong kalau influencer ga pengen netizen mengikuti pola hidupnya.
Selain itu, influencer memasak makanan juga semakin menggila. Karena banyak yang dibayar buat iklan makanan-makanan ga sehat, ultra processed food, makanan gula gila2an, dsb.. Dan mereka tanpa berdosa mengatakannya sebagai "iya, karena aku lagi sibuk, makanya aku makan makanan instan ini". Kayak plssssss harusnya di masa kayak giniii, suarakan makanan2 sehat, real food, dibandingin makanan2 bergula tinggi, processed food, dan ga sehat lainnya. Masyarakat butuh diedukasi tentang makanan sehat, bukan dibubuhi makanan2 instan, mahal pulak (salah satunya yang marak tuh, si sosis Knzlr), dapet cuma secuil ga kenyaang. Kayak yaAllah... pls lah.... itu tuh mahal ga sehat pulak. Padahal ayam dipanggang doang udh enak, atau daging aja gitu loh.
Tapi tidak bisa dipungkiri, banyak juga influencer maknaan yang memberikan pengaruh sangat baikk. Banyak influencer urban farming, promoting healthy real foods, bahkan menjual produk2 sehat yang asli buatan sendiri. Terkadang saya juga terbantu dengan resep2 gercep, rumahan, dan biaya terjangkau yang sering diberikan bu ibu. Ada juga influencer yang memberi resep2 cara mengolah sisa sampah organik buah/sayur jadi bahan makanan lain. Saya sangat salut dengan influencer-influencer. Saya merasa seharusnya lebih banyak influencer seperti ini.
YaAllah berikan kelapangan rezeki, biar bisa influence yang baek2 juga buat masyarakat.
Comments
Post a Comment