Pertautan Jiwa

 "Jodoh adalah pertautan jiwa, bukan fisiknya"

Begitulah kata-kata dari Ustadz Faizar menceritakan bagaimana perjuangan yang telah dilalui bersama sang istri, jatuh bangun. Kalau membahas tentang mereka, tentu dibutuhkan satu postingan terkhusus bagaimana Allah memberikan ujian di dunia ini sesuai dengan kemampuan kita. Tapi satu kalimat yang selalu terngiang setelah mendengar podcast mereka adalah tentang jodoh.

Akhir-akhir ini begitu bahagia melihat banyak teman-teman mulai mengarungi bahtera rumah tangga. Kami sendiri, belum genap dua tahun menikah. Tidak banyak yang bisa kami katakan tentang pernikahan, tidak banyak pengalaman, tidak banyak kebijaksanaan yang kami tempa. Bahkan tanpa disadari dalam dua tahun ini, tidak ada post instagram bersama yang kami bagikan di post ig heheh (kalo insta story sih mayan yak). 

Tapi sejauh ini kami punya prinsip. Prinsip tersebutlah yang perlahan-lahan menghiasi pernikahan dengan begitu indah, biidznillah. Prinsip inilah yang senantiasa kami ingin bagikan di tengah minimnya pengalaman kami dalam hidup pernikahan ini. Tapi semoga bisa menjadi pegangan kuat hingga ke surga nanti.


"There is nothing certain, more than a time can tell ... and time will tell how I will love and live with you biidznillah"

Sebuah kalimat, pengawal dan pengakhir dari sepucuk surat yang saya tuliskan untuk (calon) suami di malam hari sebelum akad. Akad nikah berlalu begitu saja, rasanya seperti terbang. Walau dengan banyak rintangan, alhamdulillah Allah berikan kelancaran. Di setiap problematika yang muncul saat persiapan pernikahan, selalu ada solusi yang Allah sisipkan.

Sebagai pasangan yang tidak pacaran sebelum menikah, bersanding dengan seseorang yang asing sangat nano nano. Walaupun kami adalah kolega di kampus, tapi komunikasi kami sangat minim, mungkin tidak lebih dari dua orang yang saling asing. Begitu juga prinsip saya ketika memulai menempuh jalur taaruf, adalah memulai mengenal seseorang dari awal, seperti orang asing. Ada beberapa alasan kenapa hal ini jadi convenience, terutama bagi perempuan: (1) Tidak ada baper, (2) Tidak ada bias jadi bisa melihat seseorang plus minus apa adanya, (3) Lebih bisa komprehensif dan tepat sasaran, ketika memasuki fase tanya jawab, fokus pada hal2 yang mendukung pernikahan.

Memilih jalur taaruf juga bukan hal yang sembarangan jika diingat dulu. Ada berbagai pertimbangan di tengah gempuran HTS dan pacaran. Prinsip utama adalah (1) Pernikahan adalah ibadah terpanjang, maka jangan diawali dengan sesuatu yang tidak Allah suka. (2) Lelah hayati ga sih terombang ambing dalam hubungan yang tidak jelas, hidup ini enaknya yang pasti-pasti aja. (3) HTS dan pacaran adalah kondisi yang sangat merugikan, logically apalagi untuk posisi seorang perempuan.

Dengan prinsip ini, tidak kaget jika memang orang yang asing bisa jadi pasangan. Tapi saya belajar banyak hal dari kisah cinta yang indah-indah: Love will always find a way, what belongs to you, Allah will make it work. And it indeed works for us.

(So don't be afraid girls, be the best version of yourself, pray hard and let Allah handle the rest and choose the best groom)


 "Jodoh adalah pertautan jiwa, bukan fisiknya"

Setelah menjalani 1 tahunan pernikahan ini, mungkin satu hal yang terukir begitu dalam ke lubuk hati saya adalah bahwa pertautan jiwa memang ada, seperti yang dikatakan Ust. Faizar. Dua hati yang saling asing, dengan izin Allah, dengan kalkulator cintanya Allah, Allah berikan rahmat sehingga keduanya saling bertautan bahkan tanpa berkomunikasi begitu lama. Sungguh indah bagaimana Allah membunyikan bell sinyal di hati manusia dan keduanya bisa saling terhubung.

"Among His signs is that He created for you from yourselves spouses... " (Q.S. Ar-Rum: 21)

Pilihan Allah ini tidak terjadi secara random, melainkan Allah menciptakan pasangan yang merupakan cerminan jiwa kita (reflection of our own souls, kerennya mah). Sebuah cerminan eksternal terhadap jiwa kita yang terdalam. Ada yang bilang Allah akan pilihkan pasangan yang memang benar-benar kita butuhkan. Ada yang bilang nantinya kita dipertemukan dengan cerminan diri kita. Ada yang bilang pasangan kita adalah pelengkap diri kita. Mungkin jika dianalogikan, pasangan adalah seperti malam dan siang, kutub utara dan kutub selatan, dll.. Serupa tapi tak sama. Saling counterpart dan pairing. Counterpart nya tidak diciptakan untuk saling konflik satu dengan yang lain. Perbedaannya bukan diciptakan untuk dihantamkan. Perbedaan, persamaan, dan kerjasamanya diciptakan untuk mempertahankan keseimbangan. 

Baru beberapa bulan saya mengenal suami waktu itu, itu pun tidak intens, karena percakapan selalu tentang persiapan pernikahan. Tapi ternyata Allah Maha Baik, menyatukan dua makhluk yang se-vibes ini, dan juga saling membutuhkan. Dalam 24x7 jam (in my case, 24 x 2 + 12 x 5 jam) seminggu menjalani hari dengan makhluk-Mu yang heboh itu, ternyata sangat seru. Hanya beberapa hari, sudah terasa seperti mengenalnya bertahun-tahun.

Dengan izin Allah, sakinah mawaddah dan rahmah dapat tumbuh dalam pernikahan. Efek terbesar dalam pernikahan dirasakan dalam sakinah. Sakinah itu muncul dari berbagai aspek, tapi tumbuh secara alamiah dalam diri ini ketika memulai pernikahan. Sakinah karena sudah ada teman sedunia sesurga, sakinah karena Allah selamatkan dari banyak fitnah, dan sakinah-sakinah lainnya. Lalu mawaddah dan rahmah tumbuh dengan alami.


"You are not mine, and I am not yours"

Sebuah kisah cinta indah yang akhirnya bisa dirasakan dua buah insan di bawah naungan keberkahan dari Allah. Tapi perjuangan tidak berhenti sampai di sana. Sesaat setelah pernikahan, saya menyadari satu hal, bahwa tantangan berikutnya akan datang, "bagaiamana jika cinta pada pasangan melebihi cinta kepada Allah", "bagaimana kalau pada akhirnya saya akan kehilangan dia". Saat itu lah, di malam itu, kami menyatakan satu hal bersama, "No, I can not be yours", mengindikasikan bahwa yang memiliki kami, Allah, bisa memanggil kami kapan saja, dan yang lainnya tidak punya kuasa atas yang lain. Kami harus siap. Sama seperti yang saya sampaikan kepada orang tua ketika memulai perjalanan ke Melbourne. 

Konsep yang ini sesungguhnya terkadang jika dipikirkan masih mengawang di pikiran saya. Tapi seperti kata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, "Aku tidaklah pernah melihat suatu yang yakin kecuali keyakinan akan kematian. Namun sangat disayangkan, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya." Sekali lagi, kami harus siap. Harap saya, semoga Allah ridhai kami dalam sehidup sesurga. Aamiinn.



"Aku cinta kamu karena Allah"

Seringkali terlontar pertanyaan "kok bisa cinta?". Berbagai jawaban diproses dalam otak, layaknya binary search tree menemukan item yang tepat. Aneh sekali kalau bicara cinta. Yaampun, rasanya masih kayak bocah ngomongin cinta. Tapi jika saya cinta dengan suami karena parasnya, tapi kan parasnya sudah seperti itu sejak dulu, kok dulu ga klepek2. Jika saya cinta dengan suami karena cerdasnya, hobinya, karismanya, dan lain-lain, kenapa rasanya tidak sama seperti sebelum menikah. Saya merasa... yang pasti cinta ini bukan tentang kelebihan-kelebihan dari pasangan.

Belakangan saya merefleksikan, menikah, mitsaqan ghaliza, ini telah menyingkap sebuah tirai tebal di antara dua insan. Dalam rahmatnya, dua insan bisa saling melihat melalui sebuah tirai, yang Allah telah buatkan tirai itu saling transparan dan dapat ditembus. Tirai yang menjadi batasan di antara kami kemudian tersingkap seiring dengan akad. Semuanya terlihat begitu jelas rasanya. Semua ciri fisik, sifat, dan yang lainnya terlihat lebih indah ketika tirai itu terbuka. Inilah cinta yang bersih itu. Begitulah Allah meridhai cinta itu dimulai. Yakk, cinta itu bisa dimulai. 

Loving someone is easier when you know Allah has made him/her right for you. 
Loving someone is easier when you know he/she has all his space and time for you. 
Loving someone is easier when Allah has lifted the curtains before you
And now everything is crystal clear
And this is the love that is pure, I can finally feel

Kami bersatu dalam pernikahan atas niat lillahi ta'alaa (in syaa Allah semoga Allah selalu jaga dan berikan petunjuk), atas semangat untuk saling mendengat kepada-Nya, membantu satu sama lain menggarap ladang pahala yang Allah telah sediakan. Mungkin beginilah yang dimaksud "aku cinta dia karena Allah, dari Allah, untuk Allah". Betapa indahnya cinta yang Allah propagasikan dalam rumah tangga ini. I've never felt a more sincere love than those because of Allah, two nonacquaintance souls met with Allah's permission, for them to grant Allah's pleasure.

.
.
.

yaAllah yaRabb, izinkan kami bertemu dan berkumpul bersama keluarga-keluarga kami di surga-Mu kelak. Aamiin

Comments

Popular Posts