Tentang Jiwa
Kajian Ust. Firanda Andirja
~ 2 JENIS JIWA ~
1. Jiwa yang tersucikan - akan masuk kedalam surga
2. Jiwa yang terkotori - akan masuk kedalam neraka
~ 3 SIFAT JIWA ~
1. Al ammarah bissu’ (hukum asal jiwa): sifat yang selalu menyeru kepada keburukan
اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ
sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan (Surah Yusuf ayat 53)
2. Al lawwamah: sifat yang suka mencela (jika seseorang melakukan kemaksiatan)
وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ ٢
Aku bersumpah demi jiwa yang sangat menyesali (dirinya sendiri) (Surah Al-Qiyamah ayat 2)
(sifat ini baik, karenanya Allah bersumpah dengannya). Sifat ini bisa hilang jika terus diabaikan dan membuat sifat al ammarah bissu’ terus mendominasi
3. Mutmainnah (sifat yang terbaik): sifat yang tenang
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ٢٧
Wahai jiwa yang tenang, (Surah Al-Fajr ayat 27)
~ ARTI TAZKIYATUN NAFS ~
Tazkiyah:
1. Mensucikan
2. Berkembang
Nafs: jiwa
~ SYARAT TAZKIYATUN NAFS ~
1. Sadar yang menentukan kesucian jiwa hanyalah Allah, seseorang yang menganggap dirinya suci maka tidak dianggap oleh Allah
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يُزَكُّوْنَ اَنْفُسَهُمْۗ بَلِ اللّٰهُ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُ
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki (Surah An-Nisa ayat 49)
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰىࣖ ٣٢
Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa (Surah An-Najm ayat 32)
2. Sadar kesucian jiwa (senang pada ketaatan) merupakan karunia dari Allah, bukan karena usaha kita
وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًاۙ وَّلٰكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ
Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Akan tetapi, Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki (Surah An-Nur ayat 21)
وَاللَّهِ لَوْلَا اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا
Demi Allah, seandainya bukan karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan salat (HR. Bukhari 4104 Fathul Bari, 3795 Al-Alamiyah Shahih menurut Ijtima’ Ulama)
~ METODE & PROSES TAZKIYATUN NAFS ~
1. Pembersihan / pengosongan - jiwa dari penyakit-penyakit
a. Taswif: penyakit “nanti aja” / menunda-nunda dalam kebaikan. Harus menganggap kehidupan dunia sementara (ada batasnya)
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِك
Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara.
Bila engkau berada di waktu sore, janganlah menunggu waktu pagi, dan bila engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.
HR. Bukhari 6416 Fathul Bari, 5937 Al-Alamiyah Shahih menurut Ijtima’ ulama
b. Terlalu cinta dengan dunia - semua ukurannya dunia Dan semua sifat-sifat buruk lainnya
2. Menghiasi - jiwa dengan amalan-amalan
a. Berdo’a
Do’a berlindung dari keburukan jiwa (sumber internal & sumber eksternal):
أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ
aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan sekutunya (HR. Tirmidzi 3529 Maktabatu Al Ma’arif Riyadh, 3452 Al-Alamiyah, Shahih menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani)
Do’a meminta taqwa:
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا
Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku, (HR. Muslim 2722 Syarah Shahih Muslim, 4899 Al-Alamiyah, Shahih menurut Ijtima’ Ulama)
b. Mengingat kematian
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
Banyak-banyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian
(HR. Tirmidzi 2307 Maktabatu Al-Ma’arif Riyadh, 2229 Al-Alamiyah, Hasan Shahih menurut Muhammad Nashiruddin Al-Albani)
c.Ziarah kubur
فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ
Ziaralah kubur karena dapat mengingatkan kalian akan kematian (HR. Muslim 976 Syarah Shahih Muslim, 1622 Al-Alamiyah, Shahih menurut Ijtima’ Ulama)
d. Muhasabah: menghisab diri
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ
hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) (Surah Al-Hasyr ayat 18)
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (Nasehat Umar bin Khattab)
Comments
Post a Comment